euphony

about past, present, and future


Leave a comment

Beriman dan Berpikir???

begitu banyaknya orang yang penasaran dengan kehidupan sy, seperti diuji kesabaran sy ketika harus menerima pertanyaan yang hampir semuanya bernada dan bermakna sama…mungkin sebaiknya sy membuat press conference seperti artis-artis itu,.hehe…pertanyaan itu masih saja seputar “pasangan”. Dan terkadang ada yang mengajukan pertanyaan dengan sangat serius, dan seringkali sy menjadi “speechless”.

KRITERIA

iya  kriteria dan waktu sering menjadi topik utama pertanyaan orang-orang di sekitar sy. Entahlah mungkin mereka terlalu sayang kepada sy sehingga merasa kasihan melihat sy yg sudah berumur seperempat abad ini tapi masih “sendirian” saja kemana-mana. Mereka selalu berpikir bahwa sy terlalu pemilih, sy perfectionist, kriteria sy terlalu tinggi, dan sebagainya… Padahal sedikitpun tak pernah terbersit dlm pikiran sy untuk menetapkan kriteria untuk pasangan sy. Gambaran dalam otak sy hanya kata “as usual”, tak berlebihan, dan seperti kebanyakan orang, itu saja.

tapi…

Ada satu hal yang tak pernah lepas dari khayalan sy tentang sosok pasangan sy nanti (semoga Allah SWT mengabulkannya)…tentang keimanannya…mungkin sy adalah orang yang tak tahu diri, karena tak seberapa beriman tapi mengharapkan seorang pendamping yang beriman…ampuni sy Ya Rabb, tapi paling tidak  itu bisa menjadi motivasi “spesial” bagi sy untuk selalu berupaya mengimaniMu dengan utuh meski sy tetap “manusia biasa” yang berharap “hadiah” atas apa yang sy upayakan.

Keimanan menjadi sangat penting ketika seseorang mampu dan mau mewujudkan tindakan keimanannya…dan buat saya ketika seseorang mampu beriman pada Tuhan “yang tak terlihat” maka itu artinya dia berhasil menggunakan akal dan hatinya untuk “melihat” Tuhan dan kemudian memutuskan untuk “taat” kepadaNya.

Jika dia mampu bertanggungjawab pada dzat yang tak tampak oleh mata maka bolehkan kalau sy memastikan bahwa dia adalah orang baik yang tentu saja akan bertanggungjawab sepenuhnya dengan apa yg terlihat oleh mata (misal: keluarga)??? meski tentu saja dia bukanlah orang yang sempurna… Menemukan keimanan bukanlah warisan dan seharusnya itu menjadi tugas bagi setiap manusia yang diberkahi dengan akal dan hati…

bahwa Allah SWT selalu menekankan keimanan dan akal, sedikit yang saya tahu tentang ayat-ayat berikut ini mungkin bisa menguatkan diri sy sendiri (dan mungkin Anda yang berkenan membaca tulisan ini)):

“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19).

Islam memandang kaitan antara keilmuan dengan ketakwaan itu sangat erat.

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah SWT adalah orang-orang yang berilmu dari hamba-Nya.” (Faathir: 28).

dan mungkin karena sebab itulah sy berpikir bahwa esensi Ketuhanan hanya bisa ditemukan oleh orang-orang  yang mau berpikir…

dan iman itu akhirnya akan tertanam dalam hati jika seseorang benar-benar mau berpikir…

dan

“Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

jadi mengapa “keimanan” menjadi tema khayalan utama sy krn keimanan menjadi penentu keseluruhan seorang insan…

-Wallahu a’lam-

Advertisements


Leave a comment

DIVORCE

Entah apakah yang akan saya tulis ini akan memberikan inspirasi atau tidak, tapi sungguh saya ingin menuliskan ini minimal untuk mengingatkan diri saya sendiri. Saya memang belum berpengalaman dalam dunia pernikahan, sebagian besar orang berkata bahwa pernikahan itu seperti membuka “lahan baru” bagi tanaman “permasalahan”. Sebagian lagi berkata bahwa pernikahan itu menyenangkan karena kita mendapatkan “extra tenaga” untuk meraih apa yang kita impikan.

Terlepas dari semua pendapat tersebut saya hanya ingin melihat gambaran utuh tentang sebuah pernikahan yang sesungguhnya bukan sekedar tentang pemenuhan kebutuhan biologis saja. Atas dasar hierarki kebutuhan Maslow yang terdiri dari: (1) kebutuhan fisiologis; (2) kebutuhan akan rasa aman; (3) kebutuhan untuk dicintai; (4) kebutuhan untuk dihargai; (5) kebutuhan aktualisasi diri, sesungguhnya kita mulai dapat memahami bahwa pernikahan merupakan salah satu bejana bagi pemenuhan 5 kebutuhan dasar tersebut.

Seandainya setiap pasangan memahami bahwa setiap manusia mempunyai 5 kebutuhan tersebut yang harus terpenuhi, dan seandainya setiap dari mereka mau saling memahami dan menghargainya, maka saya pikir perceraian bukanlah jawaban bagi permasalahan mereka. Yang membuat saya miris bukanlah nasib mantan “pasangan” tersebut tetapi justru nasib generasi-generasi yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka bersama. Betapa saya ingin marah ketika harus menghitung banyaknya permasalahan anak-anak yang menjadi tanggung jawab sekolah dan hampir semuanya adalah anak-anak broken home, korban perceraian yang kemudian dititipkan di rumah kakek-nenek mereka.

Apakah mereka para orang tua itu tak pernah berpikir akibatnya? Apakah mereka memang tak sanggup menjalani ujian pernikahan itu? Apakah mereka merasa salah memilih pasangan? Bertanya-tanya tentang hal itu justru semakin membuat saya ketakutan… tapi… satu hal yang saya yakini, bahwa saat tanggungjwab kita bertambah…maka secara alami kita akan mendapatkan extra motivasi dan extra energi, karena menurut Rogers setiap manusia mempunyai kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi untuk selalu menjadi lebih “baik” (on becoming person), itu artinya manusia akan selalu berkembang. Menurut Maslow pun begitu bahwa manusia dimotivasi oleh kebutuhannya, setiap kebutuhan satu terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang meminta untuk dipenuhi…dan kebutuhan yang telah terpenuhi itu pada dasarnya memberikan tambahan energi untuk kita mencapai pemenuhan kebutuhan berikutnya (inilah kenapa disebut hierarki kebutuhan). Mungkin kita bisa mengkaitkannya dengan salah satu janji Allah SWT yang tertulis dalam surat An Nur ayat 32:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui”

Dari pemaknaan sederhananya mungkin dapat disimpulkan bahwa saat kita memutuskan untuk memasuki jenjang pernikahan (menerima tanggung jawab lebih) maka Allah pun akan memberikan ekstra tenaga dan kemampuan untuk “memenuhi” tanggung jawab tersebut (atas dasar kalimat yang dicetak dengan huruf kapital “MENGKAYAKAN”). Jadi sebenarnya ekstra motivasi yang disebutkan oleh Rogers dan Maslow di atas merupakan wujud JAMINAN dari ALLAH SWT.

-Wallahu a’lam bis shawab-


Leave a comment

Menjadi Lautan

Entah sejak kapan sy merasakan ada perubahan peran dari seorang Ibu yang selama ini selalu setia mendampingi sy… sejak kecil sy merasakan beliau adalah seorang Ibu, Ibu yang mempunyai keagungannya sendiri…Ibu yang mutlak dan tak terbantahkan sebagai seorang Ibu… Mungkin sy tidak pernah melihat sosok Ibu yang lemah lembut, yg sy lihat justru sosoknya yg kuat meskipun terkadang juga terlihat “agak” rapuh…

Sekarang sy melihat Ibu sebagai sosok yg berbeda…meskipun tentu saja tidak akan bisa melepaskan sosok yang sebelumnya… Ketika sy berbicara tentang permasalahan kuliah dan pekerjaan, beliau benar-benar menjadi sosok Ibu yang memberi wejangan… dan ketika sy berbicara tentang persoalan kehidupan entah mengapa Ibu sy benar-benar bisa berubah menjadi sosok “kawan”…

Tepatnya hari minggu kemarin, sy banyak mengobrol dengan beliau, seperti biasa saat sy tidak bisa pulang maka hari Minggu akan tetap menjadi hari keluarga meskipun hanya lewat telpon. Dan begitulah sy akan selalu banyak bercerita tentang segala hal yg selama seminggu sudah sy alami… salah satunya adalah cerita seorang “kawan” yg seringkali eksis di jejaring sosial dengan berbagai status tentang permasalahan keluarganya. Sy bertanya tentang pendapat beliau sebagai seseorang yg berperan sebagai “ibu” seperti peran yg juga dimainkan oleh kawan sy itu.

Beliau tidak menghakimi tindakan kawan sy, beliau tidak menyalahkan, beliau juga tidak membenarkan, dan beliaupun juga tidak lantas memberi wejangan kepada sy. Paling tidak kalimat Ibu sy adalah seperti ini,

“kalau selama ini Ibu hanya bisa menjadi semacam lautan dalam keluarga ini, yang menerima segala hal, entah baik ataupun buruk…lautan tidak pernah mencari tempat lain untuk membuang sesuatu yang buruk dan tidak disukainya, dengan tangan terbuka lautan selalu sanggup menerima segalanya”

Itu sama artinya Ibu sy berkata, “sebaiknya jangan melakukan itu”, tetapi beliau tidak menggunakan kalimat semacam itu, sungguh utk sy itu adalah sesuatu yang mengagumkan.

Bagi sy jawaban Ibu adalah jawaban yg sangat hebat, jawaban yg tidak semua orang bisa menemukannya, jawaban yg hanya bisa diramu oleh seseorang yg telah melalui perjalanan panjang dan proses belajar yg mengiringinya…banyak orang yg melampaui panjangnya perjalanan tetapi tidak mendapatkan proses belajar darinya…

Dan jawaban itu pun akhirnya membuat sy berpikir bahwa bukan hanya Ibu yang sepatutnya menjadi lautan, tetapi kita sebagai manusia sudah sewajarnya dan seharusnya mampu menjadi “lautan”… Ketika kita menjalani alur kehidupan, dengan segala onak dan durinya, adakah kesempatan bagi kita untuk menghindar dan hanya memilih jalur yang mulus dan tak berkerikil???bisakah kita me-request  pada Tuhan untuk kesempatan-kesempatan yang selalu terlihat dan terasa indah???

Dan saat kita membuat sebuah komitmen dengan seseorang yg menjadi pasangan kita, akankah kita membuat perjanjian dengannya “untuk menerima kelebihannya saja dan menghujat kekurangannya???”

Kehidupan ini tak pernah menyajikan menu yang sama…adanya kebenaran, karena adanya kesalahan…adanya kesenangan karena adanya kesedihan…adanya kelebihan karena adanya kekurangan…

sempurnanya kehidupan ini adalah karena adanya 2 hal yg selalu berada dalam 2 kutub yang berbeda

sempurnanya manusia adalah karena ia memiliki kekurangan sekaligus kelebihan

dan naifnya kita adalah jika kita mengingkari perbedaan itu dan memilih salah satunya saja…

Bagaimana bisa kita merasakan kesenangan, jika jita tak pernah merasakan kesedihan???

Bukankah kesenangan akan terasa “hambar” jika kita tak pernah merasakan “sengsara” sebelumnya???

*menjadi seluas -samudera-


Leave a comment

Hate Monday Vs Like Monday

Entah kenapa akhir2 ini sy sering “lemas” kalau mendapati hari Senin…kalau boleh sih diperlambat atau dipercepat aja sekalian biar tdk merasakan “galau” yg dibawa oleh si Senin, paling tidak di Minggu sore sy sudah merasa hawa malas karena membayangkan tugas dan kewajiban yg seabrek itu #menurut versi sy sih seabrek=banyak. Biasanya pikiran sy akan melayang2 ke tempat kerja, tentang materi & media yg hrs sy pakai…kemudian berlanjut ke kampus, terbayangkan bejibunnya tugas yg hrs diselesaikan…berikutnya melayang lagi ke proposal  TA yg msh blm menemukan titik benderang…masih berlanjut lagi melayang ke puri anjasmoro, bayangin si Adek yg gampang2 susah utk belajar, masih ditambah lagi bayangan bakalan kena hujan badai waktu pulang dari sana…duh benar2 bayangan yg menyedihkan, tidak sedikitpun ditemukan “kesenangan”.

parah bukan???

dan apa yg sebenarnya tidak disukai???hari senin atau segala rutinitas tiap minggunya ataukah sebuah permulaan???

iya dan seperti biasanya yg selalu berat adalah permulaan untuk sesuatu…seringkali kita membayangkan hal-hal yg justru membuat kita tak mampu melakukan sesuatu, membuat kita ketakutan dan tak mau membuat perubahan…

selalu saja bayangan ketakutan itu datang di awal (dan pasangannya adalah penyesalan yg selalu datang di akhir #saat kita tak mau memanfaatkan kesempatan)

jadi teringat ketika dulu sy belajar bersepeda, awalnya sepeda beroda empat…dan kemudian orang tua sy mengajukan usul untuk melepas 2 roda samping sepeda sy…saat itu yg ada dalam bayangan sy adalah ketakutan yg sangat “jika jatuh, jika gagal, jika sakit” dan jika-jika yg lain…tapi seperti magic saat tetangga seusia sy berhasil menaklukkan sepeda kecilnya, lalu sy pun nekat “menyetujui” usul orang tua sy…dan pada awalnya memang sy takut…di pertengahan pun sy masih agak keder…tapi lama-kelamaan sy menikmati…dan akhirnya sy bisa…entah karena terbiasa atau karena nekat…##meskipun tetap harus jatuh-bangun…

pada akhirnya saya pun menyadari bahwa bayangan-bayangan buruk di setiap awal minggu adalah bagian dari “naifnya” sy yg tidak mau menyadari tentang tiap nikmat yg diberikan Tuhan kepada sy, termasuk nikmat nafas yg masih ada dalam diri saya hingga saat awal minggu itu tiba…

dan pada akhirnya, dengan lantang sy berkata pada diri sy sendiri

“kalau kamu membenci hari senin atau hari-hari lainnya maka cobalah menghentikan waktu jika mampu…tetapi jika kamu tak mampu maka akhiri saja hidupmu maka hari akan menjadi sama selalu…namun jika kamu merasa bahwa dirimu masih berharga untuk ada maka lakukanlah sesuatu agar tetap bisa tersenyum di hari itu”

sebenarnya apa yg membuat kita menderita bukanlah apa-apa yg kita alami, bukanlah apa-apa yg kita lihat, bukanlah apa-apa yg kita dengar…tetapi justru apa-apa yg kita jadikan dasar untuk memandang…

-self talk-disputing my irrational belief-


Leave a comment

d’Qualified….

Beberapa waktu yg lalu sy membaca sebuah artikel dan bagi sy artikel itu sangat menarik, artikel tersebut berbicara tentang interaksi dalam keluarga… Si Ibu yg berperan sbg tokoh utama dalam artikel tersebut dikategorikan sbg ibu yg sukses, karena apa??? Karena mampu mencetak anak-anak yang berkualitas baik secara akademik, karir, mental, dan personalnya. Bayangin aja si anak selain meraih sukses duniawi (bc. akademik-karir), si anak jg bisa menjadi seorang penghafal Al Qur’an. Sejujurnya sy merasa kagum dg beliau, tetapi sy sendiri juga tidak terlalu paham dengan ukuran kesuksesan seseorang dalam setiap peran apapun yg mereka mainkan. Yah…mungkin karena benturan pada ukuran relatif bagi masing-masing orang, termasuk untuk sy sendiri.

Diluar pembahasan tentang isi artikel tersebut, mungkin sy ingin sekedar menggarisbawahi sebuah testimoni yg sedikit banyak akan menyita perhatian banyak orang, yaitu:

kualitas ibu mempengaruhi kualitas anak, dan kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah

Testimoni yg sederhana itu membawa berjuta makna yg terus memenuhi otak sy, mulai lagi sy ingat tentang kupasan teori Freud, Klein, dan kroni2nya,.hehe… iya para teoritisi tersebut memang mencetuskan teori2 yg pada awalnya diragukan dan dianggap kurang empiris tapi tetap saja membawa kebenarannya masing2…

Freud yg menetapkan pengalaman 5 tahun pertama menjadi arena utama pembentuk kepribadian seseorang akhirnya memaksa para ibu untuk waspada dan berhati2 dalam mengasuh anak-anaknya di usia tersebut. Bagaimana tidak, anak-anak di usia tersebut mempunyai ingatan yg tajam seperti recorder yg sekali saja merekam sesuatu maka akan dimunculkan ulang tanpa cela… dan Melanie Klein yg menekankan hubungan seseorang dengan significant other-nya sejak bayi (tentu saja figur “ibu”) menjadi alasan kenapa ibu harus selalu belajar untuk menjadi ibu yg layak mendidik anak yg “layak” dengan cara yg layak.

Testimoni berikutnya yaitu “kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah”…iya dan inipun tak terbantahkan karena laki2 adalah pemimpin bagi kaum perempuan, atau setidaknya jika kita tak perlu ekstrim melihat tema “pemimpin” tersebut, marilah kita berpikir tentang “law of causality”, hukum sebab akibat…benar adanya jika panas matahari akan menyebabkan salju meleleh, benar kiranya jika dinginnya malam membuat kita memilih untuk memakai jaket…ya dan benar kiranya jika tauladan yg baik juga akan memberi dampak yg baik, tetapi sayangnya manusia bukanlah air, manusia bukanlah es, manusia bukanlah benda…

Manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri (self deterministik seperti yg diungkapkan oleh Ellis), manusia juga merupakan produk budaya (seperti yg diungkapkan Horney), manusia sebagai produk  interaksi (seperti yg diungkapkan Rogers), dan masih banyak lagi aspek2 kemanusiaan yg melatarbelakangi “terjadinya” karakter manusia. Dan itulah yg menyebabkan setiap stimulus positif bagi manusia tidak selalu mendorong respon yg positif juga.

Jika bertolak dari pandangan Ellis yg menganggap manusia sebagai makhluk yg berkompeten untuk mengubah nasibnya sendiri (self deterministik), maka kurang tepat rasanya jika kita mengangkat testimoni di atas sebagai jargon utama, wabil khusus untuk testimoni yg menyatakan “kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah” karena pada kenyataannya ibu adalah sosok wanita dewasa (bc.bukan anak2 lagi) yg tentu saja mempunyai kemampuan untuk “mendorong” dirinya sendiri pada peningkatan kualitas dirinya, di luar pengaruh yg diberikan oleh sang suami…

Jadi pada dasarnya sy hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu sungguh sangat kompleks, dan manusia adalah sosok yg sangat suggestible (mudah sekali untuk disugesti, entah dengan sugesti positif maupun negatif, meski respon pada sugesti tersebut tentu saja tidak sama), oleh karenanya sosok ibu memang dipengaruhi oleh sosok ayah, tetapi sosok ibu juga mempengaruhi sosok ayah…

Jadi teringat kalimat teman sy “mending golek sing mateng, daripada dikon ngimbu selawase” (artinya: dia lebih memilih untuk mencari orang yg punya modal “kualitas” agar bisa mempengaruhi kualitas dirinya daripada harus menghabiskan waktu lama untuk “mengkarbit” pasangannya)…yah mungkin kalimat sederhananya adalah “berhati2lah dalam memilih pasangan, paling tidak pilihlah seseorang yg bisa tumbuh bersama kita, bukan hanya soal rasa tapi juga logika”.

Dan testimoni yg ingin sy tambahkan kali ini adalah “sosok yg berkualitas hanya untuk sosok yg berkualitas jg”, mengingat hukum tarik-menarik (d’law of attraction), dan inipun disinggung dalam surat AnNur ayat 26. Jadi jika kita menginginkan sesuatu yg layak (bc.tidak hanya pasangan) maka kita pun harus berusaha melayakkan diri untuk mendapatkan sesuatu yg layak itu.

so…jargon sy kali ini adalah…
“kualitas ibu dan ayah mempengaruhi kualitas anak karena baik kualitas ibu dan kualitas ayah akan saling memberi pengaruh, dan orang yg berkualitas hanya untuk orang yg berkualitas”

case of d’day:
sepasang suami-istri saling mengatai “oon dan dong-dong” di pagi hari karena “motor”#tepok jidattt


Leave a comment

My Personality

MBTI sendiri pada dasarnya peta psikologis yang bersandar pada empat dimensi utama yang saling berlawanan (dikotomis), yakni :
1. Extrovert (E) vs. Introvert (I). Ekstrovert artinya tipe pribadi yang suka bergaul, menyenangi interaksi sosial dengan orang lain, dan berfokus pada the world outside the self. Sebaliknya tipe introvert adalah mereka yang senang menyendiri, reflektif, dan tidak begitu suka bergaul dengan banyak orang. Orang introvert lebih suka mengerjakan aktivitas yang tidak banyak menutut interaksi semisal membaca, menulis, dan berpikir secara imajinatif.
2. Sensing (S) vs. Intuitive (N). Tipe dikotomi kedua ini melihat bagaimana seseorang memproses data. Sensing memproses data dengan cara bersandar pada fakta yang konkrit, factual facts, dan melihat data apa adanya. Sensing adalah concrete thinkers. Sementara tipe intuitive memproses data dengan melihat pola dan impresi, serta melihat berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Intutive adalah abstract thinkers.
3. Thinking (T) vs. Feeling (F). Tipe dikotomi yang ketiga ini melihat bagiamana orang berproses mengambil keputusan. Thinking adalah mereka yang selalu menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk mengambil keputusan. Sementara feeling adalah mereka yang melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai yang diyakini ketika hendak mengambil keputusan.
4. Judging (J) vs. Perceiving (P). Tipe dikotomi yang terakhir ini ingin melihat derajat fleksibilitas seseorang. Judging disini bukan berarti judgemental (atau menghakimi). Judging disini diartikan sebagai tipe orang yang selalu bertumpu pada rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak secara sekuensial (tidak melompat-lompat). Sementara tipe perceiving adalah mereka yang bersikap fleksibel, adaptif, dan bertindak secara random untuk melihat beragam peluang yang muncul.

dan mungkin hasil tes sy di atas “agak” mendekati -iya-

sumber: http://dantonprabawanto.com/2007/12/17/test-kepribadian-mbti/


Leave a comment

Kontak Fisik dan Logika Carl Rogers

Akhirnya semalam saya bisa “membuat” momen kedekatan dengan teman-teman kos, setelah sekian lama jarang ngobrol (bc. karena saya yang sok sibuk mondar-mandir sampai malam menjelang dan langsung menutup mata hingga pagi datang)…hoho…

Dari momen semalam sebenarnya ada sesuatu hal yang membuat saya agak “terganggu”, seperti biasa saya selalu terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi cukup membuat dahi ini mengkerut… Semalam salah satu adik kos saya bertanya, “mbak, menurut mbak gimana kalau kita melakukan -kissing- dengan pacar kita???”

*pertanyaan sederhana yang menyentak naluri saya sbg seseorang yang “tidak” pernah melakukan itu* (bukannya sok suci, tapi memang kenyataannya begitu, dan semoga itu terjaga hingga tiba saatnya nanti)

Idealnya saya akan menjawab pertanyaan itu dari segi aturan agama Islam yang saya anut, dan sudah jelas jawabannya bahwa “mendekati zina” adalah LARANGAN… Tetapi sayangnya jawaban semacam itu tidak selalu bisa menjadi jawaban yang tepat yang dapat memuaskan si Penanya. Dan tentu saja saya pun tidak akan menjawab hanya sampai kata “dilarang” saja, karena sesungguhnya disadari ataupun tidak, setiap larangan yang ditentukan oleh ajaran agama yang saya anut selalu saja membawa alasan dan tujuan yang hanya bisa ditelaah dengan pemahaman dan ilmu lebih. Meskipun alasan dan tujuan tersebut bisa jadi dapat dipahami setelah menghabiskan waktu yang suanguat puanjuaaaang!!! *butuh keuletan dan kesabaran untuk membuktikannya, dan setelah terbukti kemudian barulah kita menyadari tentang keagunganNya.

Dan bayangkan saja ketika anak sekarang diperingatkan tentang dosa dan pahala, mereka hanya merespon dengan komentar “emang dosa rupane opo????” (bc. emang dosa itu warnanya apa???). Itu adalah ungkapan nyleneh mereka tentang keraguan mereka pada keberadaan dosa-pahala dan surga-neraka, sayangnya memang anak sekarang terlalu kritis atau sebaliknya terlalu “lemot” untuk bisa membedakan hal yang benar dan salah. Tetapi paling tidak hal tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk kita (terutama untuk saya) agar bisa menjelaskan konsep “larangan” tersebut dengan lebih rasional dan nyata, sehingga mungkin mereka akan lebih mudah untuk menerimanya.

Untungnya seharian kemarin saya sudah bergelut dengan teori Person Centerednya Carl Rogers jadi meskipun sangat sedikit tetapi konsep-konsep si Rogers masih sedikit nempel di ingatan saya. Tahukah Anda bahwa menurut Rogers manusia itu dikaruniai oleh dua kecenderungan yaitu kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi. Dengan bahasa kasar mungkin penjelasannya adalah sebagai berikut “kecenderungan formatif adalah kecenderungan organisme (apapun bentuknya) untuk berubah terus-menerus menuju sesuatu yang lebih kompleks”, contohnya yaitu pertumbuhan manusia yang berasal dari segumpal darah yang semakin lama semakin kompleks bentuknya. Contoh lainnya yaitu ketika kita bermain game di komputer, setelah kita menuntaskan permainan yang “sederhana” kita pasti akan terus bergerak ke level berikutnya untuk menaklukkan tantangan baru yang lebih kompleks. Iya…dan itu artinya adalah “sebuah hukum alam” yang tidak terbantahkan. Untuk kecenderungan mengaktualisasi sendiri mungkin sedikit dapat disinggung yaitu kecenderungan seseorang untuk terus berusaha “eksis” dan diakui oleh orang lain sesuai dengan potensi yang dimilikinya (bc. hanya mirip dengan Maslow tetapi tidak sama).

Sehubungan dengan pertanyaan adik kos saya tersebut, saya pun memberi jawaban dari versi Rogers yang membawa konsep kecenderungan formatif, yaitu organisme (termasuk manusia) yang akan terus bergerak menuju kompleksitas. “Kissing” mungkin merupakan salah satu wujud kontak fisik yang kita anggap remeh, tetapi jangan salah karena jika dibenturkan dengan konsep kecenderungan formatifnya Rogers, “kissing” yang remeh ini adalah perwujudan pintu gerbang bagi tindakan-tindakan berikutnya yang lebih kompleks. Mungkin tadinya “kissing” ditujukan sebagai pemanis dalam hubungan (karena banyak pelakunya yang menyatakan alasan demikian), tetapi harus disadari pemanis ini ternyata bersifat adiktif alias membuat orang kecanduan dan menginginkan perlakuan yang lebih kompleks (bc. lebih dari kissing). Mungkin karena alasan ini pulalah kenapa ajaran agama saya tidak hanya melarang “zina” tetapi juga “perbuatan yang mendekati zina”.

Jadi karena alasan itulah hingga saat ini saya masih tidak mempunyai keberanian melanggar garis batas “kontak fisik” itu (dan semoga saya selalu diberikan kekuatan lebih untuk bertahan hingga saat yang tepat itu tiba).

Oleh karena saya tidak mempunyai kemampuan untuk memprediksi masa depan, maka saya tidak cukup berani untuk mengambil resiko yang merisaukan.

dan

Oleh karena saya masih berwujud manusia yang penuh fluktuasi iman dan hati, maka saya tidak cukup berani untuk menjerumuskan diri.

-entahlah-