euphony

about past, present, and future


Leave a comment

Kecerdasan Emosional dan Siswa Sekolah Dasar

Fokus perhatian masyarakat saat ini semakin berkembang, dalam dunia pendidikan masyarakat tidak hanya berorientasi pada pengembangan kecerdasan intelektual, tetapi juga berfokus pada peningkatan kecerdasan emosional. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya penelitian dan buku yang mengulas tentang kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional mempunyai peran yang penting dalam kehidupan manusia, bahkan untuk menyampaikan urgensi kecerdasan emosional tersebut Efendi (2005: 180) menyatakan “spesies manusia berhutang amat banyak kepada kekuatan emosi”. Pernyataan tersebut sangat wajar karena paling tidak untuk mencapai kesuksesan sebagai anggota masyarakat kecerdasan emosional sangat dibutuhkan.

Salah satu komponen utama kecerdasan emosional menurut para ahli yaitu kecakapan sosial yang berfungsi menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan. Dapat dibayangkan bagaimana mengkhawatirkannya jika individu yang merupakan anggota suatu kelompok masyarakat ternyata mengalami hambatan dalam meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Besar kemungkinan individu tersebut akan sering mengalami benturan sosial dengan individu lain. Sebagai contoh yaitu banyaknya terjadi bentrokan fisik di masyarakat yang dipicu oleh permasalahan personal, baik yang dilakukan oleh anak-anak maupun individu-individu dewasa.

Contoh kasus yang akhir-akhir ini menyita perhatian masyarakat adalah kasus yang menjadikan seorang anak kelas 1 Sekolah Dasar berusia 7 tahun sebagai tersangka pembunuhan teman sepermainannya yang berusia 6 tahun. Dicurigai pembunuhan disebabkan oleh pertikaian karena korban anak berhutang uang Rp.1000,- pada tersangka (Kabar Sore TV One, 27 April 2013). Kasus ini menjadi bukti bahwa kecerdasan emosional anak seharusnya sudah diajarkan dan dikembangkan sejak dini.
Berdasarkan hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati yang dimuat dalam http://www.unikbaca.com, sejak tahun 2008 sampai 2010 muncul fakta bahwa 67% dari 2.818 siswa SD kelas IV, V, dan VI di wilayah Jabodetabek mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Sekitar 24% mengaku melihat pornografi melalui media komik, 22% dari internet, 17% dari game, 12% dari film di televisi, dan 6% melalui telepon genggam. Kemudian berita yang dilansir dalam http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita menyebutkan lima siswa sebuah sekolah dasar di wilayah Gowa, Sulawesi Selatan diputus bersalah dalam kasus pencabulan terhadap teman perempuan satu kelas mereka dan dihukum pidana 18 bulan penjara. Hasil penelitian dan kasus pencabulan tersebut sepatutnya mendorong upaya bagi pengembangan kecerdasan emosional yang berkaitan erat dengan komponen pemahaman diri dan pengendalian diri.

Dari beberapa contoh kasus di atas, dapat diketahui bahwa akibat yang ditimbulkan oleh kurang optimalnya perkembangan kecerdasan emosional sungguh mengkhawatirkan. Oleh karena itu menjadi hal yang wajar jika saat ini perhatian terhadap peran dan pengembangan kecerdasan emosional mulai meningkat. Seperti halnya dalam mengembangkan kecerdasan intelektual yang sebaiknya dimulai sejak dini, maka pengembangan kecerdasan emosional pun harus distimulasi sedini mungkin.

Masa anak-anak adalah masa emas, di masa inilah anak mengalami perkembangan, baik perkembangan fisik, psikologis, kognitif, moral, emosional, dan sosial. Hal tersebut membuat masa kanak-kanak menjadi masa penting bagi pengembangan berbagai potensi individu.

Banyak hal yang menunjukkan rendahnya kecerdasan emosional sebagian besar siswa SD. Misalnya: banyaknya kasus perkelahian antara siswa, bahkan perkelahian tersebut hingga melibatkan kelompok, bukan hanya personal. Siswa juga sulit untuk menahan diri ketika melakukan antrian, seringkali terjadi percekcokan di tempat wudlu dan kantin. Itu artinya siswa tersebut belum bisa membina hubungan baik dengan individu lain, dan kemampuan membina hubungan baik merupakan salah satu unsur pokok kecerdasan emosional seseorang.

Kecerdasan emosional yang rendah berakibat menghambat perkembangan optimal manusia di berbagai aspek kehidupan.

Advertisements


Leave a comment

Bidang Garapan Konseling dan Situasinya

Perkembangan berbagai aspek dalam kehidupan telah membawa dampak juga bagi perkembangan konseling. Secara tidak langsung perkembangan aspek-aspek kehidupan mendorong timbulnya berbagai efek positif dan negatif dalam kehidupan manusia yang akhirnya menempatkan konseling sebagai layanan yang penting di berbagai bidang. Bidang-bidang tersebut antara lain: 

  • Konseling di Lembaga Masyarakat

Konsep yang menjadi dasar dalam konseling di lembaga masyarakat yaitu konsep psikologi komunitas karena yang menjadi sasaran layanan adalah individu yang merupakan bagian dari komunitas sosialnya. Konsep psikologi komunitas ini berfokus pada:

  1. Meminimalisir perhatian pada konsep lama yaitu psikologi abnormal dan memberi perhatian lebih pada disfungsi psikologis akibat respon manusia terhadap berbagai permasalahan hidup sehari-hari. Masalah dasar yang sering dialami dalam kehidupan manusia adalah akibat kemiskinan, rasisme, kurangnya pendidikan, kurangnya kesempatan kerja dan sebagainya.
  2. Mengupayakan pengembangan kompetensi pribadi dan kompetensi sosial individu..
  3. Tidak hanya berfokus pada upaya kuratif namun juga meningkatkan upaya prefentif untuk mencegah banyaknya orang yang mengalami sakit jiwa dan dikirim ke rumah sakit jiwa.

Konseling di lembaga masyarakat harus melayani semua individu dengan mempertimbangkan latar belakang kelompok sosial mereka karena dalam pelaksanaannya konseling mempunyai jangka waktu yang relative, bersifat situasional dan menggunakan pendekatan problem solving sehingga program yang dilaksanakan adalah program per kelompok. Konselor yang menangani haruslah tenaga ahli yang profesional dalam masalah yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya: seorang konselor menangani masalah karir dan jabatan, maka konselor yang bersangkutan harus ahli di bidang tersebut. Keahlian tersebut bisa didapatkan melalui pendidikan atau pelatihan.

  • Konseling di Sekolah

Salah satu kontribusi konseling dalam perkembangan manusia yaitu penyelenggaraan layanan konseling di dalam sekolah. Konseling merupakan salah satu inovasi dalam pendidikan karena dalam programnya konseling menawarkan adanya perbedaan individu dan harga diri individu sebagai fokus utama dalam penyelenggaraannya.

Dalam pendidikan dijelaskan bahwa konselor dan guru mempunyai karakteristik yang berbeda dan terkadang hal tersebut mendorong konselor dan guru saling berseberangan pendapat. Di lapangan sering kita jumpai konselor yang memandang guru sebagai sosok yang tidak mau menerima perubahan, sosok yang berkuasa dan tidak mau menerima kreativitas serta spontanitas siswa. Sedangkan guru  memandang konselor sebagai pembela siswa yang bersalah dan konselor seringkali memperlakukan siswa yang bersalah itu sebagai korban, selain itu guru pun memandang konselor tidak pernah memperhatikan profesi guru dengan segala tanggung jawabnya.

Konflik antara guru dan konselor dapat dihindari jika konselor tidak terlalu saklek dalam mempertahankan konsep konseling yang diajarkan padanya karena pada kenyataannya akan lebih susah mempertahankan konsep tersebut di sekolah daripada di tempat praktik pribadi karena sekolah merupakan institusi yang mempunyai keterkaitan dengan berbagai pihak. Berbagai permasalahan tentang peran konselor akan menghilang sampai konselor mampu untuk berprestasi dalam merumuskan dan menjelaskan tujuannya melalui tindakan nyata.

  • Konseling di Universitas

Adanya konseling di universitas merupakan hasil dorongan dari pecahnya perang dunia yang menghasilkan banyak veteran yang pada akhirnya memilih untuk menggunakan kesempatan mengambil pendidikan lanjutan di universitas. Para veteran ini membutuhkan layanan khusus sehubungan kondisi pribadi yang kurang baik setelah berperang.

Layanan konseling di universitas tidak seperti layanan konseling di sekolah, karena layanan di universitas di laksanakan di pusat kegiatan mahasiswa, asrama dan klub-klub penyalur minat dan bakat, sedangkan untuk permasalahan kedisiplian tidak ditangani oleh konselor melainkan ditangani oleh pimpinan mahasiswa.

Fokus layanan konseling di universitas adalah permasalahan tentang pendidikan, karir, aktualisasi diri dan psikoterapi. Oleh karena itu yang terlibat dalam layanan konseling di universitas adalah konselor, psikiater, psikolog,  pekerja sosial, dan sebagainya.

  • Konseling di Lembaga Rehabilitasi

Konseling rehabilitasi tidak hanya menangani permasalahan psikis namun juga permasalahan fisik. Yang berperan dalam konseling rehabilitasi ialah psikiater, terapis, pekerja sosial, perawat dan konselor. konseling rehabilitasi dapat ditemukan di rumah sakit, medial center, komunitas veteran, perusahaan serta lembaga rehabilitasi untuk pecandu alkohol dan narkoba.

Konseling rehabilitasi dimaksudkan untuk membantu klien agar bisa menerima dirinya yang sakit atau kurang sempurna, memanajemen semua permasalahan yang menyangkut kekurangannya, merencanakan karir dan pendidikannya serta membantu klien  untuk mengembangkan potensinya agar dapat beraktualisasi dan bersosialisasi di masyarakat.

  • Konseling di Dunia Kesehatan

Perkembangan baru di dunia kesehatan dan konseling yaitu kolaborasi antara keduanya di satu bidang “kesehatan”. Hal ini dikarenakan oleh dua alasan, yaitu:

  1. Semua tipe penyakit selalu berkaitan dengan reaksi emosi dari si penderita dan orang-orang di sekitarnya.
  2. Setiap manusia merespon penyakitnya secara total baik secara psikis maupun fisik.

Pengobatan yang menggunakan sistem konvensional tanpa melibatkan konseling tidak mampu menangani permasalahan yang berasal dari semua aspek. Konseling ini berperan di organisasi kesehatan mental, klinik, rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan komprehensif.

Yang biasanya dilakukan konseling dalam dunia kesehatan antara lain yaitu:

  1. Membantu persiapan psikis klien yang akan menjalani proses operasi yang beresiko tinggi.
  2. Menangani psikosomatik yaitu penyakit fisik akibat gangguan psikis, misalnya: sakit kepala dan sakit perut akibat kecemasan yang berlebih.
  3. Preventif dengan mencegah terjadinya stress yang berkelanjutan yang dapat mengakibatkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan sebagainya.
  4. Membantu keluarga untuk mempersiapkan diri dan membentuk kondisi yang mendukung bagi kesembuhan klien.
  5. Membantu untuk mengurangi kebiasaan buruk yang dapat mendorong munculnya penyakit lain, misalnya: merokok, kebiasaan minum alkohol, diet dengan cara yang salah, dan kebiasaan buruk lainnya.
  • Konseling untuk Praktik Pribadi

Konseling ini bersifat independen, tidak terikat dengan pihak manapun kecuali dengan pihak-pihak yang mempunyai kontrak kerja sama. Area kerja konseling ini, misalnya: di bagian pengembangan sumber daya manusia, membantu dunia bisnis dan pemerintahan yang menuntut adanya pemilihan karyawan yang berkompeten, layanan kelompok berupa pelatihan bagi karyawan, dan sebagainya. Dalam pelaksanaan tugasnya terkadang konselor dituntut untuk bekerjasama dengan psikiater dan psikolog. Praktik mandiri membutuhkan izin resmi dari pihak yang berwenang, dan konselor yang juga sebagai psikolog dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang sesuai akan lebih mudah mendapatkan izin.

 

dafpus: Blochher, Donald H. 1987. The Professional Counselor. Canada: Macmillan.