euphony

about past, present, and future


Leave a comment

Beriman dan Berpikir???

begitu banyaknya orang yang penasaran dengan kehidupan sy, seperti diuji kesabaran sy ketika harus menerima pertanyaan yang hampir semuanya bernada dan bermakna sama…mungkin sebaiknya sy membuat press conference seperti artis-artis itu,.hehe…pertanyaan itu masih saja seputar “pasangan”. Dan terkadang ada yang mengajukan pertanyaan dengan sangat serius, dan seringkali sy menjadi “speechless”.

KRITERIA

iya  kriteria dan waktu sering menjadi topik utama pertanyaan orang-orang di sekitar sy. Entahlah mungkin mereka terlalu sayang kepada sy sehingga merasa kasihan melihat sy yg sudah berumur seperempat abad ini tapi masih “sendirian” saja kemana-mana. Mereka selalu berpikir bahwa sy terlalu pemilih, sy perfectionist, kriteria sy terlalu tinggi, dan sebagainya… Padahal sedikitpun tak pernah terbersit dlm pikiran sy untuk menetapkan kriteria untuk pasangan sy. Gambaran dalam otak sy hanya kata “as usual”, tak berlebihan, dan seperti kebanyakan orang, itu saja.

tapi…

Ada satu hal yang tak pernah lepas dari khayalan sy tentang sosok pasangan sy nanti (semoga Allah SWT mengabulkannya)…tentang keimanannya…mungkin sy adalah orang yang tak tahu diri, karena tak seberapa beriman tapi mengharapkan seorang pendamping yang beriman…ampuni sy Ya Rabb, tapi paling tidak  itu bisa menjadi motivasi “spesial” bagi sy untuk selalu berupaya mengimaniMu dengan utuh meski sy tetap “manusia biasa” yang berharap “hadiah” atas apa yang sy upayakan.

Keimanan menjadi sangat penting ketika seseorang mampu dan mau mewujudkan tindakan keimanannya…dan buat saya ketika seseorang mampu beriman pada Tuhan “yang tak terlihat” maka itu artinya dia berhasil menggunakan akal dan hatinya untuk “melihat” Tuhan dan kemudian memutuskan untuk “taat” kepadaNya.

Jika dia mampu bertanggungjawab pada dzat yang tak tampak oleh mata maka bolehkan kalau sy memastikan bahwa dia adalah orang baik yang tentu saja akan bertanggungjawab sepenuhnya dengan apa yg terlihat oleh mata (misal: keluarga)??? meski tentu saja dia bukanlah orang yang sempurna… Menemukan keimanan bukanlah warisan dan seharusnya itu menjadi tugas bagi setiap manusia yang diberkahi dengan akal dan hati…

bahwa Allah SWT selalu menekankan keimanan dan akal, sedikit yang saya tahu tentang ayat-ayat berikut ini mungkin bisa menguatkan diri sy sendiri (dan mungkin Anda yang berkenan membaca tulisan ini)):

“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19).

Islam memandang kaitan antara keilmuan dengan ketakwaan itu sangat erat.

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah SWT adalah orang-orang yang berilmu dari hamba-Nya.” (Faathir: 28).

dan mungkin karena sebab itulah sy berpikir bahwa esensi Ketuhanan hanya bisa ditemukan oleh orang-orang  yang mau berpikir…

dan iman itu akhirnya akan tertanam dalam hati jika seseorang benar-benar mau berpikir…

dan

“Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

jadi mengapa “keimanan” menjadi tema khayalan utama sy krn keimanan menjadi penentu keseluruhan seorang insan…

-Wallahu a’lam-

Advertisements