euphony

about past, present, and future


Leave a comment

DIVORCE

Entah apakah yang akan saya tulis ini akan memberikan inspirasi atau tidak, tapi sungguh saya ingin menuliskan ini minimal untuk mengingatkan diri saya sendiri. Saya memang belum berpengalaman dalam dunia pernikahan, sebagian besar orang berkata bahwa pernikahan itu seperti membuka “lahan baru” bagi tanaman “permasalahan”. Sebagian lagi berkata bahwa pernikahan itu menyenangkan karena kita mendapatkan “extra tenaga” untuk meraih apa yang kita impikan.

Terlepas dari semua pendapat tersebut saya hanya ingin melihat gambaran utuh tentang sebuah pernikahan yang sesungguhnya bukan sekedar tentang pemenuhan kebutuhan biologis saja. Atas dasar hierarki kebutuhan Maslow yang terdiri dari: (1) kebutuhan fisiologis; (2) kebutuhan akan rasa aman; (3) kebutuhan untuk dicintai; (4) kebutuhan untuk dihargai; (5) kebutuhan aktualisasi diri, sesungguhnya kita mulai dapat memahami bahwa pernikahan merupakan salah satu bejana bagi pemenuhan 5 kebutuhan dasar tersebut.

Seandainya setiap pasangan memahami bahwa setiap manusia mempunyai 5 kebutuhan tersebut yang harus terpenuhi, dan seandainya setiap dari mereka mau saling memahami dan menghargainya, maka saya pikir perceraian bukanlah jawaban bagi permasalahan mereka. Yang membuat saya miris bukanlah nasib mantan “pasangan” tersebut tetapi justru nasib generasi-generasi yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka bersama. Betapa saya ingin marah ketika harus menghitung banyaknya permasalahan anak-anak yang menjadi tanggung jawab sekolah dan hampir semuanya adalah anak-anak broken home, korban perceraian yang kemudian dititipkan di rumah kakek-nenek mereka.

Apakah mereka para orang tua itu tak pernah berpikir akibatnya? Apakah mereka memang tak sanggup menjalani ujian pernikahan itu? Apakah mereka merasa salah memilih pasangan? Bertanya-tanya tentang hal itu justru semakin membuat saya ketakutan… tapi… satu hal yang saya yakini, bahwa saat tanggungjwab kita bertambah…maka secara alami kita akan mendapatkan extra motivasi dan extra energi, karena menurut Rogers setiap manusia mempunyai kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi untuk selalu menjadi lebih “baik” (on becoming person), itu artinya manusia akan selalu berkembang. Menurut Maslow pun begitu bahwa manusia dimotivasi oleh kebutuhannya, setiap kebutuhan satu terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang meminta untuk dipenuhi…dan kebutuhan yang telah terpenuhi itu pada dasarnya memberikan tambahan energi untuk kita mencapai pemenuhan kebutuhan berikutnya (inilah kenapa disebut hierarki kebutuhan). Mungkin kita bisa mengkaitkannya dengan salah satu janji Allah SWT yang tertulis dalam surat An Nur ayat 32:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui”

Dari pemaknaan sederhananya mungkin dapat disimpulkan bahwa saat kita memutuskan untuk memasuki jenjang pernikahan (menerima tanggung jawab lebih) maka Allah pun akan memberikan ekstra tenaga dan kemampuan untuk “memenuhi” tanggung jawab tersebut (atas dasar kalimat yang dicetak dengan huruf kapital “MENGKAYAKAN”). Jadi sebenarnya ekstra motivasi yang disebutkan oleh Rogers dan Maslow di atas merupakan wujud JAMINAN dari ALLAH SWT.

-Wallahu a’lam bis shawab-

Advertisements