euphony

about past, present, and future

Hate Monday Vs Like Monday

Leave a comment

Entah kenapa akhir2 ini sy sering “lemas” kalau mendapati hari Senin…kalau boleh sih diperlambat atau dipercepat aja sekalian biar tdk merasakan “galau” yg dibawa oleh si Senin, paling tidak di Minggu sore sy sudah merasa hawa malas karena membayangkan tugas dan kewajiban yg seabrek itu #menurut versi sy sih seabrek=banyak. Biasanya pikiran sy akan melayang2 ke tempat kerja, tentang materi & media yg hrs sy pakai…kemudian berlanjut ke kampus, terbayangkan bejibunnya tugas yg hrs diselesaikan…berikutnya melayang lagi ke proposal  TA yg msh blm menemukan titik benderang…masih berlanjut lagi melayang ke puri anjasmoro, bayangin si Adek yg gampang2 susah utk belajar, masih ditambah lagi bayangan bakalan kena hujan badai waktu pulang dari sana…duh benar2 bayangan yg menyedihkan, tidak sedikitpun ditemukan “kesenangan”.

parah bukan???

dan apa yg sebenarnya tidak disukai???hari senin atau segala rutinitas tiap minggunya ataukah sebuah permulaan???

iya dan seperti biasanya yg selalu berat adalah permulaan untuk sesuatu…seringkali kita membayangkan hal-hal yg justru membuat kita tak mampu melakukan sesuatu, membuat kita ketakutan dan tak mau membuat perubahan…

selalu saja bayangan ketakutan itu datang di awal (dan pasangannya adalah penyesalan yg selalu datang di akhir #saat kita tak mau memanfaatkan kesempatan)

jadi teringat ketika dulu sy belajar bersepeda, awalnya sepeda beroda empat…dan kemudian orang tua sy mengajukan usul untuk melepas 2 roda samping sepeda sy…saat itu yg ada dalam bayangan sy adalah ketakutan yg sangat “jika jatuh, jika gagal, jika sakit” dan jika-jika yg lain…tapi seperti magic saat tetangga seusia sy berhasil menaklukkan sepeda kecilnya, lalu sy pun nekat “menyetujui” usul orang tua sy…dan pada awalnya memang sy takut…di pertengahan pun sy masih agak keder…tapi lama-kelamaan sy menikmati…dan akhirnya sy bisa…entah karena terbiasa atau karena nekat…##meskipun tetap harus jatuh-bangun…

pada akhirnya saya pun menyadari bahwa bayangan-bayangan buruk di setiap awal minggu adalah bagian dari “naifnya” sy yg tidak mau menyadari tentang tiap nikmat yg diberikan Tuhan kepada sy, termasuk nikmat nafas yg masih ada dalam diri saya hingga saat awal minggu itu tiba…

dan pada akhirnya, dengan lantang sy berkata pada diri sy sendiri

“kalau kamu membenci hari senin atau hari-hari lainnya maka cobalah menghentikan waktu jika mampu…tetapi jika kamu tak mampu maka akhiri saja hidupmu maka hari akan menjadi sama selalu…namun jika kamu merasa bahwa dirimu masih berharga untuk ada maka lakukanlah sesuatu agar tetap bisa tersenyum di hari itu”

sebenarnya apa yg membuat kita menderita bukanlah apa-apa yg kita alami, bukanlah apa-apa yg kita lihat, bukanlah apa-apa yg kita dengar…tetapi justru apa-apa yg kita jadikan dasar untuk memandang…

-self talk-disputing my irrational belief-

Advertisements

Author: Galuh Sekar Wijayanti

Student of Life University|belajar apa saja*dimana saja*kapan saja*dengan siapa saja*yang penting ada manfaatnya~PPS_BK*Unnes#TalkLessDoMore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s