euphony

about past, present, and future

d’Qualified….

Leave a comment

Beberapa waktu yg lalu sy membaca sebuah artikel dan bagi sy artikel itu sangat menarik, artikel tersebut berbicara tentang interaksi dalam keluarga… Si Ibu yg berperan sbg tokoh utama dalam artikel tersebut dikategorikan sbg ibu yg sukses, karena apa??? Karena mampu mencetak anak-anak yang berkualitas baik secara akademik, karir, mental, dan personalnya. Bayangin aja si anak selain meraih sukses duniawi (bc. akademik-karir), si anak jg bisa menjadi seorang penghafal Al Qur’an. Sejujurnya sy merasa kagum dg beliau, tetapi sy sendiri juga tidak terlalu paham dengan ukuran kesuksesan seseorang dalam setiap peran apapun yg mereka mainkan. Yah…mungkin karena benturan pada ukuran relatif bagi masing-masing orang, termasuk untuk sy sendiri.

Diluar pembahasan tentang isi artikel tersebut, mungkin sy ingin sekedar menggarisbawahi sebuah testimoni yg sedikit banyak akan menyita perhatian banyak orang, yaitu:

kualitas ibu mempengaruhi kualitas anak, dan kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah

Testimoni yg sederhana itu membawa berjuta makna yg terus memenuhi otak sy, mulai lagi sy ingat tentang kupasan teori Freud, Klein, dan kroni2nya,.hehe… iya para teoritisi tersebut memang mencetuskan teori2 yg pada awalnya diragukan dan dianggap kurang empiris tapi tetap saja membawa kebenarannya masing2…

Freud yg menetapkan pengalaman 5 tahun pertama menjadi arena utama pembentuk kepribadian seseorang akhirnya memaksa para ibu untuk waspada dan berhati2 dalam mengasuh anak-anaknya di usia tersebut. Bagaimana tidak, anak-anak di usia tersebut mempunyai ingatan yg tajam seperti recorder yg sekali saja merekam sesuatu maka akan dimunculkan ulang tanpa cela… dan Melanie Klein yg menekankan hubungan seseorang dengan significant other-nya sejak bayi (tentu saja figur “ibu”) menjadi alasan kenapa ibu harus selalu belajar untuk menjadi ibu yg layak mendidik anak yg “layak” dengan cara yg layak.

Testimoni berikutnya yaitu “kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah”…iya dan inipun tak terbantahkan karena laki2 adalah pemimpin bagi kaum perempuan, atau setidaknya jika kita tak perlu ekstrim melihat tema “pemimpin” tersebut, marilah kita berpikir tentang “law of causality”, hukum sebab akibat…benar adanya jika panas matahari akan menyebabkan salju meleleh, benar kiranya jika dinginnya malam membuat kita memilih untuk memakai jaket…ya dan benar kiranya jika tauladan yg baik juga akan memberi dampak yg baik, tetapi sayangnya manusia bukanlah air, manusia bukanlah es, manusia bukanlah benda…

Manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri (self deterministik seperti yg diungkapkan oleh Ellis), manusia juga merupakan produk budaya (seperti yg diungkapkan Horney), manusia sebagai produk  interaksi (seperti yg diungkapkan Rogers), dan masih banyak lagi aspek2 kemanusiaan yg melatarbelakangi “terjadinya” karakter manusia. Dan itulah yg menyebabkan setiap stimulus positif bagi manusia tidak selalu mendorong respon yg positif juga.

Jika bertolak dari pandangan Ellis yg menganggap manusia sebagai makhluk yg berkompeten untuk mengubah nasibnya sendiri (self deterministik), maka kurang tepat rasanya jika kita mengangkat testimoni di atas sebagai jargon utama, wabil khusus untuk testimoni yg menyatakan “kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah” karena pada kenyataannya ibu adalah sosok wanita dewasa (bc.bukan anak2 lagi) yg tentu saja mempunyai kemampuan untuk “mendorong” dirinya sendiri pada peningkatan kualitas dirinya, di luar pengaruh yg diberikan oleh sang suami…

Jadi pada dasarnya sy hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu sungguh sangat kompleks, dan manusia adalah sosok yg sangat suggestible (mudah sekali untuk disugesti, entah dengan sugesti positif maupun negatif, meski respon pada sugesti tersebut tentu saja tidak sama), oleh karenanya sosok ibu memang dipengaruhi oleh sosok ayah, tetapi sosok ibu juga mempengaruhi sosok ayah…

Jadi teringat kalimat teman sy “mending golek sing mateng, daripada dikon ngimbu selawase” (artinya: dia lebih memilih untuk mencari orang yg punya modal “kualitas” agar bisa mempengaruhi kualitas dirinya daripada harus menghabiskan waktu lama untuk “mengkarbit” pasangannya)…yah mungkin kalimat sederhananya adalah “berhati2lah dalam memilih pasangan, paling tidak pilihlah seseorang yg bisa tumbuh bersama kita, bukan hanya soal rasa tapi juga logika”.

Dan testimoni yg ingin sy tambahkan kali ini adalah “sosok yg berkualitas hanya untuk sosok yg berkualitas jg”, mengingat hukum tarik-menarik (d’law of attraction), dan inipun disinggung dalam surat AnNur ayat 26. Jadi jika kita menginginkan sesuatu yg layak (bc.tidak hanya pasangan) maka kita pun harus berusaha melayakkan diri untuk mendapatkan sesuatu yg layak itu.

so…jargon sy kali ini adalah…
“kualitas ibu dan ayah mempengaruhi kualitas anak karena baik kualitas ibu dan kualitas ayah akan saling memberi pengaruh, dan orang yg berkualitas hanya untuk orang yg berkualitas”

case of d’day:
sepasang suami-istri saling mengatai “oon dan dong-dong” di pagi hari karena “motor”#tepok jidattt

Advertisements

Author: Galuh Sekar Wijayanti

Student of Life University|belajar apa saja*dimana saja*kapan saja*dengan siapa saja*yang penting ada manfaatnya~PPS_BK*Unnes#TalkLessDoMore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s