euphony

about past, present, and future


Leave a comment

Menjadi Lautan

Entah sejak kapan sy merasakan ada perubahan peran dari seorang Ibu yang selama ini selalu setia mendampingi sy… sejak kecil sy merasakan beliau adalah seorang Ibu, Ibu yang mempunyai keagungannya sendiri…Ibu yang mutlak dan tak terbantahkan sebagai seorang Ibu… Mungkin sy tidak pernah melihat sosok Ibu yang lemah lembut, yg sy lihat justru sosoknya yg kuat meskipun terkadang juga terlihat “agak” rapuh…

Sekarang sy melihat Ibu sebagai sosok yg berbeda…meskipun tentu saja tidak akan bisa melepaskan sosok yang sebelumnya… Ketika sy berbicara tentang permasalahan kuliah dan pekerjaan, beliau benar-benar menjadi sosok Ibu yang memberi wejangan… dan ketika sy berbicara tentang persoalan kehidupan entah mengapa Ibu sy benar-benar bisa berubah menjadi sosok “kawan”…

Tepatnya hari minggu kemarin, sy banyak mengobrol dengan beliau, seperti biasa saat sy tidak bisa pulang maka hari Minggu akan tetap menjadi hari keluarga meskipun hanya lewat telpon. Dan begitulah sy akan selalu banyak bercerita tentang segala hal yg selama seminggu sudah sy alami… salah satunya adalah cerita seorang “kawan” yg seringkali eksis di jejaring sosial dengan berbagai status tentang permasalahan keluarganya. Sy bertanya tentang pendapat beliau sebagai seseorang yg berperan sebagai “ibu” seperti peran yg juga dimainkan oleh kawan sy itu.

Beliau tidak menghakimi tindakan kawan sy, beliau tidak menyalahkan, beliau juga tidak membenarkan, dan beliaupun juga tidak lantas memberi wejangan kepada sy. Paling tidak kalimat Ibu sy adalah seperti ini,

“kalau selama ini Ibu hanya bisa menjadi semacam lautan dalam keluarga ini, yang menerima segala hal, entah baik ataupun buruk…lautan tidak pernah mencari tempat lain untuk membuang sesuatu yang buruk dan tidak disukainya, dengan tangan terbuka lautan selalu sanggup menerima segalanya”

Itu sama artinya Ibu sy berkata, “sebaiknya jangan melakukan itu”, tetapi beliau tidak menggunakan kalimat semacam itu, sungguh utk sy itu adalah sesuatu yang mengagumkan.

Bagi sy jawaban Ibu adalah jawaban yg sangat hebat, jawaban yg tidak semua orang bisa menemukannya, jawaban yg hanya bisa diramu oleh seseorang yg telah melalui perjalanan panjang dan proses belajar yg mengiringinya…banyak orang yg melampaui panjangnya perjalanan tetapi tidak mendapatkan proses belajar darinya…

Dan jawaban itu pun akhirnya membuat sy berpikir bahwa bukan hanya Ibu yang sepatutnya menjadi lautan, tetapi kita sebagai manusia sudah sewajarnya dan seharusnya mampu menjadi “lautan”… Ketika kita menjalani alur kehidupan, dengan segala onak dan durinya, adakah kesempatan bagi kita untuk menghindar dan hanya memilih jalur yang mulus dan tak berkerikil???bisakah kita me-request  pada Tuhan untuk kesempatan-kesempatan yang selalu terlihat dan terasa indah???

Dan saat kita membuat sebuah komitmen dengan seseorang yg menjadi pasangan kita, akankah kita membuat perjanjian dengannya “untuk menerima kelebihannya saja dan menghujat kekurangannya???”

Kehidupan ini tak pernah menyajikan menu yang sama…adanya kebenaran, karena adanya kesalahan…adanya kesenangan karena adanya kesedihan…adanya kelebihan karena adanya kekurangan…

sempurnanya kehidupan ini adalah karena adanya 2 hal yg selalu berada dalam 2 kutub yang berbeda

sempurnanya manusia adalah karena ia memiliki kekurangan sekaligus kelebihan

dan naifnya kita adalah jika kita mengingkari perbedaan itu dan memilih salah satunya saja…

Bagaimana bisa kita merasakan kesenangan, jika jita tak pernah merasakan kesedihan???

Bukankah kesenangan akan terasa “hambar” jika kita tak pernah merasakan “sengsara” sebelumnya???

*menjadi seluas -samudera-

Advertisements


Leave a comment

Hate Monday Vs Like Monday

Entah kenapa akhir2 ini sy sering “lemas” kalau mendapati hari Senin…kalau boleh sih diperlambat atau dipercepat aja sekalian biar tdk merasakan “galau” yg dibawa oleh si Senin, paling tidak di Minggu sore sy sudah merasa hawa malas karena membayangkan tugas dan kewajiban yg seabrek itu #menurut versi sy sih seabrek=banyak. Biasanya pikiran sy akan melayang2 ke tempat kerja, tentang materi & media yg hrs sy pakai…kemudian berlanjut ke kampus, terbayangkan bejibunnya tugas yg hrs diselesaikan…berikutnya melayang lagi ke proposal  TA yg msh blm menemukan titik benderang…masih berlanjut lagi melayang ke puri anjasmoro, bayangin si Adek yg gampang2 susah utk belajar, masih ditambah lagi bayangan bakalan kena hujan badai waktu pulang dari sana…duh benar2 bayangan yg menyedihkan, tidak sedikitpun ditemukan “kesenangan”.

parah bukan???

dan apa yg sebenarnya tidak disukai???hari senin atau segala rutinitas tiap minggunya ataukah sebuah permulaan???

iya dan seperti biasanya yg selalu berat adalah permulaan untuk sesuatu…seringkali kita membayangkan hal-hal yg justru membuat kita tak mampu melakukan sesuatu, membuat kita ketakutan dan tak mau membuat perubahan…

selalu saja bayangan ketakutan itu datang di awal (dan pasangannya adalah penyesalan yg selalu datang di akhir #saat kita tak mau memanfaatkan kesempatan)

jadi teringat ketika dulu sy belajar bersepeda, awalnya sepeda beroda empat…dan kemudian orang tua sy mengajukan usul untuk melepas 2 roda samping sepeda sy…saat itu yg ada dalam bayangan sy adalah ketakutan yg sangat “jika jatuh, jika gagal, jika sakit” dan jika-jika yg lain…tapi seperti magic saat tetangga seusia sy berhasil menaklukkan sepeda kecilnya, lalu sy pun nekat “menyetujui” usul orang tua sy…dan pada awalnya memang sy takut…di pertengahan pun sy masih agak keder…tapi lama-kelamaan sy menikmati…dan akhirnya sy bisa…entah karena terbiasa atau karena nekat…##meskipun tetap harus jatuh-bangun…

pada akhirnya saya pun menyadari bahwa bayangan-bayangan buruk di setiap awal minggu adalah bagian dari “naifnya” sy yg tidak mau menyadari tentang tiap nikmat yg diberikan Tuhan kepada sy, termasuk nikmat nafas yg masih ada dalam diri saya hingga saat awal minggu itu tiba…

dan pada akhirnya, dengan lantang sy berkata pada diri sy sendiri

“kalau kamu membenci hari senin atau hari-hari lainnya maka cobalah menghentikan waktu jika mampu…tetapi jika kamu tak mampu maka akhiri saja hidupmu maka hari akan menjadi sama selalu…namun jika kamu merasa bahwa dirimu masih berharga untuk ada maka lakukanlah sesuatu agar tetap bisa tersenyum di hari itu”

sebenarnya apa yg membuat kita menderita bukanlah apa-apa yg kita alami, bukanlah apa-apa yg kita lihat, bukanlah apa-apa yg kita dengar…tetapi justru apa-apa yg kita jadikan dasar untuk memandang…

-self talk-disputing my irrational belief-


Leave a comment

d’Qualified….

Beberapa waktu yg lalu sy membaca sebuah artikel dan bagi sy artikel itu sangat menarik, artikel tersebut berbicara tentang interaksi dalam keluarga… Si Ibu yg berperan sbg tokoh utama dalam artikel tersebut dikategorikan sbg ibu yg sukses, karena apa??? Karena mampu mencetak anak-anak yang berkualitas baik secara akademik, karir, mental, dan personalnya. Bayangin aja si anak selain meraih sukses duniawi (bc. akademik-karir), si anak jg bisa menjadi seorang penghafal Al Qur’an. Sejujurnya sy merasa kagum dg beliau, tetapi sy sendiri juga tidak terlalu paham dengan ukuran kesuksesan seseorang dalam setiap peran apapun yg mereka mainkan. Yah…mungkin karena benturan pada ukuran relatif bagi masing-masing orang, termasuk untuk sy sendiri.

Diluar pembahasan tentang isi artikel tersebut, mungkin sy ingin sekedar menggarisbawahi sebuah testimoni yg sedikit banyak akan menyita perhatian banyak orang, yaitu:

kualitas ibu mempengaruhi kualitas anak, dan kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah

Testimoni yg sederhana itu membawa berjuta makna yg terus memenuhi otak sy, mulai lagi sy ingat tentang kupasan teori Freud, Klein, dan kroni2nya,.hehe… iya para teoritisi tersebut memang mencetuskan teori2 yg pada awalnya diragukan dan dianggap kurang empiris tapi tetap saja membawa kebenarannya masing2…

Freud yg menetapkan pengalaman 5 tahun pertama menjadi arena utama pembentuk kepribadian seseorang akhirnya memaksa para ibu untuk waspada dan berhati2 dalam mengasuh anak-anaknya di usia tersebut. Bagaimana tidak, anak-anak di usia tersebut mempunyai ingatan yg tajam seperti recorder yg sekali saja merekam sesuatu maka akan dimunculkan ulang tanpa cela… dan Melanie Klein yg menekankan hubungan seseorang dengan significant other-nya sejak bayi (tentu saja figur “ibu”) menjadi alasan kenapa ibu harus selalu belajar untuk menjadi ibu yg layak mendidik anak yg “layak” dengan cara yg layak.

Testimoni berikutnya yaitu “kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah”…iya dan inipun tak terbantahkan karena laki2 adalah pemimpin bagi kaum perempuan, atau setidaknya jika kita tak perlu ekstrim melihat tema “pemimpin” tersebut, marilah kita berpikir tentang “law of causality”, hukum sebab akibat…benar adanya jika panas matahari akan menyebabkan salju meleleh, benar kiranya jika dinginnya malam membuat kita memilih untuk memakai jaket…ya dan benar kiranya jika tauladan yg baik juga akan memberi dampak yg baik, tetapi sayangnya manusia bukanlah air, manusia bukanlah es, manusia bukanlah benda…

Manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri (self deterministik seperti yg diungkapkan oleh Ellis), manusia juga merupakan produk budaya (seperti yg diungkapkan Horney), manusia sebagai produk  interaksi (seperti yg diungkapkan Rogers), dan masih banyak lagi aspek2 kemanusiaan yg melatarbelakangi “terjadinya” karakter manusia. Dan itulah yg menyebabkan setiap stimulus positif bagi manusia tidak selalu mendorong respon yg positif juga.

Jika bertolak dari pandangan Ellis yg menganggap manusia sebagai makhluk yg berkompeten untuk mengubah nasibnya sendiri (self deterministik), maka kurang tepat rasanya jika kita mengangkat testimoni di atas sebagai jargon utama, wabil khusus untuk testimoni yg menyatakan “kualitas ibu dipengaruhi oleh kualitas ayah” karena pada kenyataannya ibu adalah sosok wanita dewasa (bc.bukan anak2 lagi) yg tentu saja mempunyai kemampuan untuk “mendorong” dirinya sendiri pada peningkatan kualitas dirinya, di luar pengaruh yg diberikan oleh sang suami…

Jadi pada dasarnya sy hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu sungguh sangat kompleks, dan manusia adalah sosok yg sangat suggestible (mudah sekali untuk disugesti, entah dengan sugesti positif maupun negatif, meski respon pada sugesti tersebut tentu saja tidak sama), oleh karenanya sosok ibu memang dipengaruhi oleh sosok ayah, tetapi sosok ibu juga mempengaruhi sosok ayah…

Jadi teringat kalimat teman sy “mending golek sing mateng, daripada dikon ngimbu selawase” (artinya: dia lebih memilih untuk mencari orang yg punya modal “kualitas” agar bisa mempengaruhi kualitas dirinya daripada harus menghabiskan waktu lama untuk “mengkarbit” pasangannya)…yah mungkin kalimat sederhananya adalah “berhati2lah dalam memilih pasangan, paling tidak pilihlah seseorang yg bisa tumbuh bersama kita, bukan hanya soal rasa tapi juga logika”.

Dan testimoni yg ingin sy tambahkan kali ini adalah “sosok yg berkualitas hanya untuk sosok yg berkualitas jg”, mengingat hukum tarik-menarik (d’law of attraction), dan inipun disinggung dalam surat AnNur ayat 26. Jadi jika kita menginginkan sesuatu yg layak (bc.tidak hanya pasangan) maka kita pun harus berusaha melayakkan diri untuk mendapatkan sesuatu yg layak itu.

so…jargon sy kali ini adalah…
“kualitas ibu dan ayah mempengaruhi kualitas anak karena baik kualitas ibu dan kualitas ayah akan saling memberi pengaruh, dan orang yg berkualitas hanya untuk orang yg berkualitas”

case of d’day:
sepasang suami-istri saling mengatai “oon dan dong-dong” di pagi hari karena “motor”#tepok jidattt


Leave a comment

My Personality

MBTI sendiri pada dasarnya peta psikologis yang bersandar pada empat dimensi utama yang saling berlawanan (dikotomis), yakni :
1. Extrovert (E) vs. Introvert (I). Ekstrovert artinya tipe pribadi yang suka bergaul, menyenangi interaksi sosial dengan orang lain, dan berfokus pada the world outside the self. Sebaliknya tipe introvert adalah mereka yang senang menyendiri, reflektif, dan tidak begitu suka bergaul dengan banyak orang. Orang introvert lebih suka mengerjakan aktivitas yang tidak banyak menutut interaksi semisal membaca, menulis, dan berpikir secara imajinatif.
2. Sensing (S) vs. Intuitive (N). Tipe dikotomi kedua ini melihat bagaimana seseorang memproses data. Sensing memproses data dengan cara bersandar pada fakta yang konkrit, factual facts, dan melihat data apa adanya. Sensing adalah concrete thinkers. Sementara tipe intuitive memproses data dengan melihat pola dan impresi, serta melihat berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Intutive adalah abstract thinkers.
3. Thinking (T) vs. Feeling (F). Tipe dikotomi yang ketiga ini melihat bagiamana orang berproses mengambil keputusan. Thinking adalah mereka yang selalu menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk mengambil keputusan. Sementara feeling adalah mereka yang melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai yang diyakini ketika hendak mengambil keputusan.
4. Judging (J) vs. Perceiving (P). Tipe dikotomi yang terakhir ini ingin melihat derajat fleksibilitas seseorang. Judging disini bukan berarti judgemental (atau menghakimi). Judging disini diartikan sebagai tipe orang yang selalu bertumpu pada rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak secara sekuensial (tidak melompat-lompat). Sementara tipe perceiving adalah mereka yang bersikap fleksibel, adaptif, dan bertindak secara random untuk melihat beragam peluang yang muncul.

dan mungkin hasil tes sy di atas “agak” mendekati -iya-

sumber: http://dantonprabawanto.com/2007/12/17/test-kepribadian-mbti/