euphony

about past, present, and future

Kontak Fisik dan Logika Carl Rogers

Leave a comment

Akhirnya semalam saya bisa “membuat” momen kedekatan dengan teman-teman kos, setelah sekian lama jarang ngobrol (bc. karena saya yang sok sibuk mondar-mandir sampai malam menjelang dan langsung menutup mata hingga pagi datang)…hoho…

Dari momen semalam sebenarnya ada sesuatu hal yang membuat saya agak “terganggu”, seperti biasa saya selalu terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi cukup membuat dahi ini mengkerut… Semalam salah satu adik kos saya bertanya, “mbak, menurut mbak gimana kalau kita melakukan -kissing- dengan pacar kita???”

*pertanyaan sederhana yang menyentak naluri saya sbg seseorang yang “tidak” pernah melakukan itu* (bukannya sok suci, tapi memang kenyataannya begitu, dan semoga itu terjaga hingga tiba saatnya nanti)

Idealnya saya akan menjawab pertanyaan itu dari segi aturan agama Islam yang saya anut, dan sudah jelas jawabannya bahwa “mendekati zina” adalah LARANGAN… Tetapi sayangnya jawaban semacam itu tidak selalu bisa menjadi jawaban yang tepat yang dapat memuaskan si Penanya. Dan tentu saja saya pun tidak akan menjawab hanya sampai kata “dilarang” saja, karena sesungguhnya disadari ataupun tidak, setiap larangan yang ditentukan oleh ajaran agama yang saya anut selalu saja membawa alasan dan tujuan yang hanya bisa ditelaah dengan pemahaman dan ilmu lebih. Meskipun alasan dan tujuan tersebut bisa jadi dapat dipahami setelah menghabiskan waktu yang suanguat puanjuaaaang!!! *butuh keuletan dan kesabaran untuk membuktikannya, dan setelah terbukti kemudian barulah kita menyadari tentang keagunganNya.

Dan bayangkan saja ketika anak sekarang diperingatkan tentang dosa dan pahala, mereka hanya merespon dengan komentar “emang dosa rupane opo????” (bc. emang dosa itu warnanya apa???). Itu adalah ungkapan nyleneh mereka tentang keraguan mereka pada keberadaan dosa-pahala dan surga-neraka, sayangnya memang anak sekarang terlalu kritis atau sebaliknya terlalu “lemot” untuk bisa membedakan hal yang benar dan salah. Tetapi paling tidak hal tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk kita (terutama untuk saya) agar bisa menjelaskan konsep “larangan” tersebut dengan lebih rasional dan nyata, sehingga mungkin mereka akan lebih mudah untuk menerimanya.

Untungnya seharian kemarin saya sudah bergelut dengan teori Person Centerednya Carl Rogers jadi meskipun sangat sedikit tetapi konsep-konsep si Rogers masih sedikit nempel di ingatan saya. Tahukah Anda bahwa menurut Rogers manusia itu dikaruniai oleh dua kecenderungan yaitu kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi. Dengan bahasa kasar mungkin penjelasannya adalah sebagai berikut “kecenderungan formatif adalah kecenderungan organisme (apapun bentuknya) untuk berubah terus-menerus menuju sesuatu yang lebih kompleks”, contohnya yaitu pertumbuhan manusia yang berasal dari segumpal darah yang semakin lama semakin kompleks bentuknya. Contoh lainnya yaitu ketika kita bermain game di komputer, setelah kita menuntaskan permainan yang “sederhana” kita pasti akan terus bergerak ke level berikutnya untuk menaklukkan tantangan baru yang lebih kompleks. Iya…dan itu artinya adalah “sebuah hukum alam” yang tidak terbantahkan. Untuk kecenderungan mengaktualisasi sendiri mungkin sedikit dapat disinggung yaitu kecenderungan seseorang untuk terus berusaha “eksis” dan diakui oleh orang lain sesuai dengan potensi yang dimilikinya (bc. hanya mirip dengan Maslow tetapi tidak sama).

Sehubungan dengan pertanyaan adik kos saya tersebut, saya pun memberi jawaban dari versi Rogers yang membawa konsep kecenderungan formatif, yaitu organisme (termasuk manusia) yang akan terus bergerak menuju kompleksitas. “Kissing” mungkin merupakan salah satu wujud kontak fisik yang kita anggap remeh, tetapi jangan salah karena jika dibenturkan dengan konsep kecenderungan formatifnya Rogers, “kissing” yang remeh ini adalah perwujudan pintu gerbang bagi tindakan-tindakan berikutnya yang lebih kompleks. Mungkin tadinya “kissing” ditujukan sebagai pemanis dalam hubungan (karena banyak pelakunya yang menyatakan alasan demikian), tetapi harus disadari pemanis ini ternyata bersifat adiktif alias membuat orang kecanduan dan menginginkan perlakuan yang lebih kompleks (bc. lebih dari kissing). Mungkin karena alasan ini pulalah kenapa ajaran agama saya tidak hanya melarang “zina” tetapi juga “perbuatan yang mendekati zina”.

Jadi karena alasan itulah hingga saat ini saya masih tidak mempunyai keberanian melanggar garis batas “kontak fisik” itu (dan semoga saya selalu diberikan kekuatan lebih untuk bertahan hingga saat yang tepat itu tiba).

Oleh karena saya tidak mempunyai kemampuan untuk memprediksi masa depan, maka saya tidak cukup berani untuk mengambil resiko yang merisaukan.

dan

Oleh karena saya masih berwujud manusia yang penuh fluktuasi iman dan hati, maka saya tidak cukup berani untuk menjerumuskan diri.

-entahlah-

Advertisements

Author: Galuh Sekar Wijayanti

Student of Life University|belajar apa saja*dimana saja*kapan saja*dengan siapa saja*yang penting ada manfaatnya~PPS_BK*Unnes#TalkLessDoMore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s