euphony

about past, present, and future

Sertifikasi Guru – Kepentingan Siapa?

Leave a comment

Ibu saya tiba-tiba mengeluh lelah…saya pikir karena pekerjaan rumah yang bejibun atau lelah berpikir tentang manajemen “duit”…tetapi ternyata bukan keduanya, yang menjadikan beliau lelah adalah “PLPG” (PENDIDIKAN DAN LATIHAN PEMUSINGAN GURU).

Saya mencoba mendengarkan keluh kesah beliau, tanpa protes sama sekali karena ini waktunya saya benar-benar menerima beliau “tanpa syarat” apapun. Berkali-kali kalimat menyedihkan beliau lontarkan…

Awalnya beliau bercerita tentang beratnya proses PLPG, hingga faktor U yang menjadi kambing hitam keterbatasan beliau dan “hampir semua” peserta PLPG lainnya (berkisar 90% adalah kaum yang berada di ambang lansia). 90% dari peserta PLPG yang berasal dari daerah saya (termasuk Ibu saya) harus berkali-kali bolak-balik ke Solo untuk menjalani tes ulang PLPG, karena mereka semua berkali-kali “TIDAK LULUS”.

Ibu saya yang jarang mengeluh dan komplain menjadi agak “garang” menurut versi saya, karena beliau menghujat guru-guru lain yang sebelumnya lolos sertifikasi melalui jalur portofolio. Dalam pandangan Ibu saya, mereka yang lolos sertifikasi melalui portofolio adalah sosok yang “sama saja”, seimbangpun tidak tingkat keprofesionalannya dengan mereka yang hingga kini belum lolos jalur PLPG. Selain hujatan pada guru-guru itu Ibu saya pun menghujat pemerintah dan penyelenggara PLPG yang terkesan sangat mempersulit, 3 kali ujian-3 kali juga mereka tidak lolos. Tentu saja Ibu saya tidak “sekatrok” yang saya pikirkan karena ternyata beliau pun mengetahui sistem PLPG yang diselenggarakan oleh universitas lain, dan beliau pun melakukan perbandingan.

Saya memang agak trenyuh ketika membayangkan perjuangan Ibu saya yang hampir “pensiun” harus bolak-balik luar kota untuk ujian,belum lagi harus bersusah payah untuk membaca tulisan-tulisan yang baginya terlihat seperti semut yang berarak dan tak berbentuk…kacamata pun tak cukup mampu menolongnya…

Terkadang saya juga berpikir, sebenarnya apa perbedaan yang mendasar antara kinerja guru yang belum dan sudah lolos sertifikasi???

Terkadang saya juga berpikir apakah benar program sertifikasi mampu meningkatkan kualitas pendidikan negara ini??? apa benar sertifikasi adalah jawaban yang tepat untuk menjawab krisis pendidikan di negeri ini??? apakah dulu sebelum ada sertifikasi para guru itu berontak dan tidak mau mengajar untuk menuntut “duit”??? dan apakah benar guru akan kehilangan hatinya untuk mengajar anak murid mereka ketika tak ada duit sertifikasi??? dan apakah sertifikasi mampu menyulap guru yang “suka tidur” di sekolah untuk bisa “melek” selama jam pelajaran??? Tak adalah cara efektif lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja guru tanpa harus mendorong kontroversi dan iri hati??? Apakah memang sertifikasi adalah wujud “kepentingan” tak resmi dari golongan berdasi???

Saya tidak cukup tahu tepatkah dana yang bejibun itu digunakan untuk “sertifikasi”, yang pada akhirnya hanya memunculkan kontroversi yang berkepanjangan… Di sisi lain masih jutaan “guru-guru muda” yang belum diakui posisinya. Kenapa juga duit sebesar itu tidak digunakan untuk memposisikan para idealis muda itu di tempat strategis untuk menyokong guru-guru senior yang sudah terbatas tenaga dan pikirannya???

-entahlah-

Advertisements

Author: Galuh Sekar Wijayanti

Student of Life University|belajar apa saja*dimana saja*kapan saja*dengan siapa saja*yang penting ada manfaatnya~PPS_BK*Unnes#TalkLessDoMore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s