euphony

about past, present, and future

Terlalu Banyak Bicara

Leave a comment

Selain penyakit “galau”, mungkin penyakit yang sering mendera saya adalah penyakit “terlalu banyak bicara”, bahkan tidak hanya bicara dengan orang lain tetapi juga bicara pada diri sendiri.

Entah normal atau tidak tetapi saya sering berbicara dengan diri saya sendiri, memarahi diri saya sendiri yang seringkali bertindak bodoh, mengomplen diri saya sendiri ketika mulai lebay dan lost control, menyemangati diri saya sendiri ketika sedang down, dan bahkan hanya sekedar tersenyum pada diri sendiri. Saya berpikir lalu siapa lagi yang akan menahan diri saya dari tindakan bodoh kecuali hanya “saya”, dan akhirnya saya pun melakukan “self talk” itu, bukan hanya dalam hati dan pikiran tetapi saya suarakan, dan mungkin itu agak gila (atau mungkin juga tidak).

Namun yang menjadi sumber kegalauan untuk saya justru bukan ketika saya berbicara dengan diri saya sendiri seperti yang saya gambarkan di atas, tetapi kegalaluan datang saat saya sedang “berbicara” dengan orang lain. Kata berbicara tersebut saya berikan tanda petik dua, karena kata itu mengandung makna -bukan hanya sekedar ngobrol-

Menjadi diri saya mungkin gampang-gampang susah…gampang karena orang lain melihatnya seperti itu, orang lain melihat bahwa saya selalu bisa menyelesaikan masalah-masalah saya dengan mudah, tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa keluar dari himpitan kesulitan, selalu bisa diandalkan dan “nyantai”. Bahkan ada yang berkomentar “perasaan kamu kok jadi orang nyantai banget, pantesan awet muda”. Juga ada yang kemudian bertanya, “emang kamu tak pernah merasa galau ya???” Owh Tuhan…memang rumput tetangga selalu lebih hijau, karena kita hanya bisa sekedar melihat halaman tetangga kita, dan tak pernah bisa melihat hingga ke dalam rumahnya (kecuali nekat masuk dan diteriakin MALING).

Dan tahukah Anda tentang derasnya cucuran peluh yang harus saya usap sebelum orang lain bisa menghitungnya??? Dan tahukah Anda tentang akumulasi air mata yang harus saya hapus sebelum orang lain merasa iba??? Bukan karena saya ingin dianggap wonder woman tapi hanya karena saya tidak ingin melibatkan orang-orang itu dalam keruwetan diri saya yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab saya sendiri yang sering berbuat bodoh.

Mungkin karena alasan itu pula seringkali datang kepada saya seseorang yang merasa lebih “lemah” (under estimate pada diri mereka sendiri) dan memohon “bantuan”… Hello Guysss… SAYA TIDAK SEKUAT YANG KALIAN PIKIRKAN DAN JUGA TIDAK SELEMAH YANG KALIAN BAYANGKAN…karena saya berpikir bahwa setiap apa yang kita hadapi TIDAK PERNAH SESULIT YANG KITA PIKIRKAN DAN TIDAK PERNAH SEMUDAH YANG KITA BAYANGKAN… ada kalanya kita merasa BISA, dan ada kalanya kita merasa TIDAK, bukankah itu sangat manusiawi???

dan saking manusiawinya, seringkali saya terlalu banyak bicara dan berteori tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh orang lain…melihat semuanya dari kaca mata saya yang belum tentu jernih…itulah ketakutan terbesar saya TERLALU BANYAK BICARA ATAS DASAR PANDANGAN KOTOR KARENA KACA MATA YANG SAYA PAKAI…Bolehkah saya berkata??? Janganlah terlalu mempercayai orang lain ketimbang diri sendiri, buatlah diri Anda berpikir tentang ramuan kebenaran yang bisa Anda yakini… Hal ini bukan soal pengabaian tetapi tentang bagaimana caranya menjadi diri sendiri…

-Dengarkan hipotesa orang lain dan ujilah kembali dalam “diri” Anda-

Advertisements

Author: Galuh Sekar Wijayanti

Student of Life University|belajar apa saja*dimana saja*kapan saja*dengan siapa saja*yang penting ada manfaatnya~PPS_BK*Unnes#TalkLessDoMore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s