euphony

about past, present, and future


Leave a comment

Kontak Fisik dan Logika Carl Rogers

Akhirnya semalam saya bisa “membuat” momen kedekatan dengan teman-teman kos, setelah sekian lama jarang ngobrol (bc. karena saya yang sok sibuk mondar-mandir sampai malam menjelang dan langsung menutup mata hingga pagi datang)…hoho…

Dari momen semalam sebenarnya ada sesuatu hal yang membuat saya agak “terganggu”, seperti biasa saya selalu terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi cukup membuat dahi ini mengkerut… Semalam salah satu adik kos saya bertanya, “mbak, menurut mbak gimana kalau kita melakukan -kissing- dengan pacar kita???”

*pertanyaan sederhana yang menyentak naluri saya sbg seseorang yang “tidak” pernah melakukan itu* (bukannya sok suci, tapi memang kenyataannya begitu, dan semoga itu terjaga hingga tiba saatnya nanti)

Idealnya saya akan menjawab pertanyaan itu dari segi aturan agama Islam yang saya anut, dan sudah jelas jawabannya bahwa “mendekati zina” adalah LARANGAN… Tetapi sayangnya jawaban semacam itu tidak selalu bisa menjadi jawaban yang tepat yang dapat memuaskan si Penanya. Dan tentu saja saya pun tidak akan menjawab hanya sampai kata “dilarang” saja, karena sesungguhnya disadari ataupun tidak, setiap larangan yang ditentukan oleh ajaran agama yang saya anut selalu saja membawa alasan dan tujuan yang hanya bisa ditelaah dengan pemahaman dan ilmu lebih. Meskipun alasan dan tujuan tersebut bisa jadi dapat dipahami setelah menghabiskan waktu yang suanguat puanjuaaaang!!! *butuh keuletan dan kesabaran untuk membuktikannya, dan setelah terbukti kemudian barulah kita menyadari tentang keagunganNya.

Dan bayangkan saja ketika anak sekarang diperingatkan tentang dosa dan pahala, mereka hanya merespon dengan komentar “emang dosa rupane opo????” (bc. emang dosa itu warnanya apa???). Itu adalah ungkapan nyleneh mereka tentang keraguan mereka pada keberadaan dosa-pahala dan surga-neraka, sayangnya memang anak sekarang terlalu kritis atau sebaliknya terlalu “lemot” untuk bisa membedakan hal yang benar dan salah. Tetapi paling tidak hal tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk kita (terutama untuk saya) agar bisa menjelaskan konsep “larangan” tersebut dengan lebih rasional dan nyata, sehingga mungkin mereka akan lebih mudah untuk menerimanya.

Untungnya seharian kemarin saya sudah bergelut dengan teori Person Centerednya Carl Rogers jadi meskipun sangat sedikit tetapi konsep-konsep si Rogers masih sedikit nempel di ingatan saya. Tahukah Anda bahwa menurut Rogers manusia itu dikaruniai oleh dua kecenderungan yaitu kecenderungan formatif dan kecenderungan mengaktualisasi. Dengan bahasa kasar mungkin penjelasannya adalah sebagai berikut “kecenderungan formatif adalah kecenderungan organisme (apapun bentuknya) untuk berubah terus-menerus menuju sesuatu yang lebih kompleks”, contohnya yaitu pertumbuhan manusia yang berasal dari segumpal darah yang semakin lama semakin kompleks bentuknya. Contoh lainnya yaitu ketika kita bermain game di komputer, setelah kita menuntaskan permainan yang “sederhana” kita pasti akan terus bergerak ke level berikutnya untuk menaklukkan tantangan baru yang lebih kompleks. Iya…dan itu artinya adalah “sebuah hukum alam” yang tidak terbantahkan. Untuk kecenderungan mengaktualisasi sendiri mungkin sedikit dapat disinggung yaitu kecenderungan seseorang untuk terus berusaha “eksis” dan diakui oleh orang lain sesuai dengan potensi yang dimilikinya (bc. hanya mirip dengan Maslow tetapi tidak sama).

Sehubungan dengan pertanyaan adik kos saya tersebut, saya pun memberi jawaban dari versi Rogers yang membawa konsep kecenderungan formatif, yaitu organisme (termasuk manusia) yang akan terus bergerak menuju kompleksitas. “Kissing” mungkin merupakan salah satu wujud kontak fisik yang kita anggap remeh, tetapi jangan salah karena jika dibenturkan dengan konsep kecenderungan formatifnya Rogers, “kissing” yang remeh ini adalah perwujudan pintu gerbang bagi tindakan-tindakan berikutnya yang lebih kompleks. Mungkin tadinya “kissing” ditujukan sebagai pemanis dalam hubungan (karena banyak pelakunya yang menyatakan alasan demikian), tetapi harus disadari pemanis ini ternyata bersifat adiktif alias membuat orang kecanduan dan menginginkan perlakuan yang lebih kompleks (bc. lebih dari kissing). Mungkin karena alasan ini pulalah kenapa ajaran agama saya tidak hanya melarang “zina” tetapi juga “perbuatan yang mendekati zina”.

Jadi karena alasan itulah hingga saat ini saya masih tidak mempunyai keberanian melanggar garis batas “kontak fisik” itu (dan semoga saya selalu diberikan kekuatan lebih untuk bertahan hingga saat yang tepat itu tiba).

Oleh karena saya tidak mempunyai kemampuan untuk memprediksi masa depan, maka saya tidak cukup berani untuk mengambil resiko yang merisaukan.

dan

Oleh karena saya masih berwujud manusia yang penuh fluktuasi iman dan hati, maka saya tidak cukup berani untuk menjerumuskan diri.

-entahlah-


Leave a comment

Sertifikasi Guru – Kepentingan Siapa?

Ibu saya tiba-tiba mengeluh lelah…saya pikir karena pekerjaan rumah yang bejibun atau lelah berpikir tentang manajemen “duit”…tetapi ternyata bukan keduanya, yang menjadikan beliau lelah adalah “PLPG” (PENDIDIKAN DAN LATIHAN PEMUSINGAN GURU).

Saya mencoba mendengarkan keluh kesah beliau, tanpa protes sama sekali karena ini waktunya saya benar-benar menerima beliau “tanpa syarat” apapun. Berkali-kali kalimat menyedihkan beliau lontarkan…

Awalnya beliau bercerita tentang beratnya proses PLPG, hingga faktor U yang menjadi kambing hitam keterbatasan beliau dan “hampir semua” peserta PLPG lainnya (berkisar 90% adalah kaum yang berada di ambang lansia). 90% dari peserta PLPG yang berasal dari daerah saya (termasuk Ibu saya) harus berkali-kali bolak-balik ke Solo untuk menjalani tes ulang PLPG, karena mereka semua berkali-kali “TIDAK LULUS”.

Ibu saya yang jarang mengeluh dan komplain menjadi agak “garang” menurut versi saya, karena beliau menghujat guru-guru lain yang sebelumnya lolos sertifikasi melalui jalur portofolio. Dalam pandangan Ibu saya, mereka yang lolos sertifikasi melalui portofolio adalah sosok yang “sama saja”, seimbangpun tidak tingkat keprofesionalannya dengan mereka yang hingga kini belum lolos jalur PLPG. Selain hujatan pada guru-guru itu Ibu saya pun menghujat pemerintah dan penyelenggara PLPG yang terkesan sangat mempersulit, 3 kali ujian-3 kali juga mereka tidak lolos. Tentu saja Ibu saya tidak “sekatrok” yang saya pikirkan karena ternyata beliau pun mengetahui sistem PLPG yang diselenggarakan oleh universitas lain, dan beliau pun melakukan perbandingan.

Saya memang agak trenyuh ketika membayangkan perjuangan Ibu saya yang hampir “pensiun” harus bolak-balik luar kota untuk ujian,belum lagi harus bersusah payah untuk membaca tulisan-tulisan yang baginya terlihat seperti semut yang berarak dan tak berbentuk…kacamata pun tak cukup mampu menolongnya…

Terkadang saya juga berpikir, sebenarnya apa perbedaan yang mendasar antara kinerja guru yang belum dan sudah lolos sertifikasi???

Terkadang saya juga berpikir apakah benar program sertifikasi mampu meningkatkan kualitas pendidikan negara ini??? apa benar sertifikasi adalah jawaban yang tepat untuk menjawab krisis pendidikan di negeri ini??? apakah dulu sebelum ada sertifikasi para guru itu berontak dan tidak mau mengajar untuk menuntut “duit”??? dan apakah benar guru akan kehilangan hatinya untuk mengajar anak murid mereka ketika tak ada duit sertifikasi??? dan apakah sertifikasi mampu menyulap guru yang “suka tidur” di sekolah untuk bisa “melek” selama jam pelajaran??? Tak adalah cara efektif lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja guru tanpa harus mendorong kontroversi dan iri hati??? Apakah memang sertifikasi adalah wujud “kepentingan” tak resmi dari golongan berdasi???

Saya tidak cukup tahu tepatkah dana yang bejibun itu digunakan untuk “sertifikasi”, yang pada akhirnya hanya memunculkan kontroversi yang berkepanjangan… Di sisi lain masih jutaan “guru-guru muda” yang belum diakui posisinya. Kenapa juga duit sebesar itu tidak digunakan untuk memposisikan para idealis muda itu di tempat strategis untuk menyokong guru-guru senior yang sudah terbatas tenaga dan pikirannya???

-entahlah-


Leave a comment

Terlalu Banyak Bicara

Selain penyakit “galau”, mungkin penyakit yang sering mendera saya adalah penyakit “terlalu banyak bicara”, bahkan tidak hanya bicara dengan orang lain tetapi juga bicara pada diri sendiri.

Entah normal atau tidak tetapi saya sering berbicara dengan diri saya sendiri, memarahi diri saya sendiri yang seringkali bertindak bodoh, mengomplen diri saya sendiri ketika mulai lebay dan lost control, menyemangati diri saya sendiri ketika sedang down, dan bahkan hanya sekedar tersenyum pada diri sendiri. Saya berpikir lalu siapa lagi yang akan menahan diri saya dari tindakan bodoh kecuali hanya “saya”, dan akhirnya saya pun melakukan “self talk” itu, bukan hanya dalam hati dan pikiran tetapi saya suarakan, dan mungkin itu agak gila (atau mungkin juga tidak).

Namun yang menjadi sumber kegalauan untuk saya justru bukan ketika saya berbicara dengan diri saya sendiri seperti yang saya gambarkan di atas, tetapi kegalaluan datang saat saya sedang “berbicara” dengan orang lain. Kata berbicara tersebut saya berikan tanda petik dua, karena kata itu mengandung makna -bukan hanya sekedar ngobrol-

Menjadi diri saya mungkin gampang-gampang susah…gampang karena orang lain melihatnya seperti itu, orang lain melihat bahwa saya selalu bisa menyelesaikan masalah-masalah saya dengan mudah, tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa keluar dari himpitan kesulitan, selalu bisa diandalkan dan “nyantai”. Bahkan ada yang berkomentar “perasaan kamu kok jadi orang nyantai banget, pantesan awet muda”. Juga ada yang kemudian bertanya, “emang kamu tak pernah merasa galau ya???” Owh Tuhan…memang rumput tetangga selalu lebih hijau, karena kita hanya bisa sekedar melihat halaman tetangga kita, dan tak pernah bisa melihat hingga ke dalam rumahnya (kecuali nekat masuk dan diteriakin MALING).

Dan tahukah Anda tentang derasnya cucuran peluh yang harus saya usap sebelum orang lain bisa menghitungnya??? Dan tahukah Anda tentang akumulasi air mata yang harus saya hapus sebelum orang lain merasa iba??? Bukan karena saya ingin dianggap wonder woman tapi hanya karena saya tidak ingin melibatkan orang-orang itu dalam keruwetan diri saya yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab saya sendiri yang sering berbuat bodoh.

Mungkin karena alasan itu pula seringkali datang kepada saya seseorang yang merasa lebih “lemah” (under estimate pada diri mereka sendiri) dan memohon “bantuan”… Hello Guysss… SAYA TIDAK SEKUAT YANG KALIAN PIKIRKAN DAN JUGA TIDAK SELEMAH YANG KALIAN BAYANGKAN…karena saya berpikir bahwa setiap apa yang kita hadapi TIDAK PERNAH SESULIT YANG KITA PIKIRKAN DAN TIDAK PERNAH SEMUDAH YANG KITA BAYANGKAN… ada kalanya kita merasa BISA, dan ada kalanya kita merasa TIDAK, bukankah itu sangat manusiawi???

dan saking manusiawinya, seringkali saya terlalu banyak bicara dan berteori tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh orang lain…melihat semuanya dari kaca mata saya yang belum tentu jernih…itulah ketakutan terbesar saya TERLALU BANYAK BICARA ATAS DASAR PANDANGAN KOTOR KARENA KACA MATA YANG SAYA PAKAI…Bolehkah saya berkata??? Janganlah terlalu mempercayai orang lain ketimbang diri sendiri, buatlah diri Anda berpikir tentang ramuan kebenaran yang bisa Anda yakini… Hal ini bukan soal pengabaian tetapi tentang bagaimana caranya menjadi diri sendiri…

-Dengarkan hipotesa orang lain dan ujilah kembali dalam “diri” Anda-


Leave a comment

Pilihan dan Kesempatan

ketika muncul perdebatan antara pilihan dan kesempatan…

apakah Tuhan memberi kita kesempatan dan kemudian memberi kita hak untuk membuat pilihan dengan mengikuti “buku petunjukNya”?

atau sebaliknya Tuhan menetapkan sebuah pilihan atas kesempatan-kesempatan yang telah kita buat?

terkadang sy berpikir seandainya yang terjadi adalah konsep yang kedua maka kemungkinan kita tidak akan pernah belajar bertanggung jawab atas segala keputusan yang kita buat dan kita tidak akan pernah belajar pada kesalahan-kesalahan kita sebelumnya…mungkin Tuhan akan selalu menjadi kambing hitam bagi setiap nasib yang kita pandang sebagai keburukan…

salah satu bukti yang mungkin menguatkan konsep di atas adalah tuntunan sholat istikharah bagi kita yang mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan…bukankah itu artinya kita memperoleh hak untuk menentukan pilihan kita, bukankah itu artinya kita mempunyai andil tentang putih hitamnya kehidupan kita???dan bukankah dalam menentukan pilihan tersebut Tuhan pun telah membuat buku petunjuk sekaligus penerjemahnya???dan tidak hanya itu, Tuhan pun menganugerahkan seorang penerjemah yang sekaligus menjadi teladan…

entahlah….

“teori sebab-akibat”


Leave a comment

Salah Ruang

Pernahkah Anda merasa sudah salah memasuki ruangan?

Atau pernahkan Anda melihat seseorang yang dengan tiba-tiba membuka pintu, kemudian duduk begitu saja tanpa bertanya-tanya, dan pada akhirnya orang tersebut malu karena ternyata salah memasuki ruangan tersebut, tapi kepalang tanggung juga kalau keluar (double malunya kalau dia tiba-tiba beranjak pergi), dan di dalam ruangan itu dia salah tingkah serta tak bisa menjadi dirinya sendiri… (sebut saja “mati gaya”)

Mungkin salah satu orang yang melakukan kebodohan itu adalah saya…sy sudah berbuat kesalahan dengan memasuki ruangan yang salah, dan itu membuat sy menyesal dan tidak mau lagi berbuat apa-apa. Ruangan yang sy anggap sebuah kesalahan itu adalah jurusan kuliah yg sy ambil, sejujurnya semua itu adalah saran dari orang tua (bc. yg setengah memaksa).

Di dalam ruangan itu sy hanya bisa menyesali semuanya, sy bahkan melakukan “demo” dengan tidak mau berbuat lebih. Hanya menjadi mahasiswa yg biasa-biasa saja, sama sekali tidak minat untuk menjadi luar biasa. Berkali-kali sy memupuk rasa iri sy ketika melihat orang lain memiliki kesempatan yg menurut versi “sy” itu jauh lebih baik dari kesempatan yg sy miliki. Perasaan-perasaan semacam itu terus menemani sy dan pada akhirnya membuat sy benar-benar menjadi orang yang tidak realistis, terlalu banyak berandai-andai tentang masa lalu.

Sampai pada suatu hari sy menyadari sesuatu yaitu ketertinggalan sy dari sebagian besar kawan sy. Sebagian besar dari mereka yg memulai startnya bersama sy ternyata sudah lebih dulu melesat, mencapai garis finis dan menciptakan lagi garis start step berikutnya. Rupanya sy sudah benar-benar tertinggal jauh… Setelah menyadari hal itu akhirnya sy menyusun strategi baru, karena sy pikir-pikir saat itu sy benar-benar sedang menggali lubang sendiri.

Sy berpikir bahwa seharusnya sy bisa menerima kesalahan itu, mencoba menerima kenyataan dan mengubah semuanya. Sy tanamkan dalam benak sy bahwa setiap apa yg terjadi akan selalu membawa idiom “ada udang dibalik batu” alias tak akan pernah ada yg kebetulan-selalu ada maksud untuk setiap keberadaan “sesuatu” (karena Allah SWT tidak pernah menciptakan sesuatu atas dasar kesia-siaan).  Sy kemudian benar-benar menghentikan lalu lintas pertanyaan semacam ini: “apakah tempat ini yg terbaik untuk sy? apakah ruangan ini tepat untuk sy???” dan sebaliknya sy membuka lalu lintas pertanyaan semacam ini: “apakah sy bisa menjadi yg terbaik di tempat ini? apakah sy bisa menjadikan tempat ini sbg dahan untuk berpegang dan batu untuk pijakan???”. Setidaknya pertanyaan -pertanyaan yg terakhir adalah bentuk pertanyaan yg berfokus pada diri sy sbg subyek bukan berfokus pada lingkungan di luar diri sy.

Harusnya sy bisa menyadari itu sejak lama, tengoklah ketika sy berada si bangku SMA. Sy adalah siswa salah satu SMP favorit di kota sy dan kemudian melanjutkan lagi ke salah satu SMA favorit di kota yg sama. Inilah salah satu bukti bahwa kita adalah subyek bukan obyek dari lingkungan yaitu  “sy yg berasal dari SMP favorit harus mengakui kehebatan siswa-siswa lain yg justru berasal dari SMP-SMP pelosok yang secara kualitas dan fasilitas tidak begitu baik”. Sesungguhnya kehebatan teman-teman sy yg berasal dari pelosok itu bukan karena lingkungan (bc. sekolah) tetapi karena mereka sendiri yg memposisikan dirinya sebagai subyek dari lingkungan bukan sebagai obyek, karena kenyataannya mereka tetap bisa menjadi orang-orang hebat dalam situasi apapun (bc. di sekolah favorit ataupun tidak).

Meskipun terlambat namun pada akhirnya sy menyadari itu, dan mulai detik itu sy berusaha membuat diri sy “on control” oleh diri sy sendiri bukan “on control” oleh lingkungan, karena sy lah subyek kehidupan yg sebenarnya, bukan lingkungan atau hal lainnya. Setidaknya saat sy jatuh pun sy harus tetap “on control”.

-the happiest moment is when u can be ur self-


Leave a comment

tentang Ayah

Anak-anak mungkin mempunyai respon yang sederhana, tapi terkadang respon itu justru punya makna yang sangat dalam. Beberapa saat yang lalu ketika saya meminta mereka menuliskan komentar mereka tentang “ayah” ternyata ada sebagian yang justru menangis tersedu-sedu, entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tetapi mungkin sedikit banyak saya pun merasa “sama”, seringkali sedih dan trenyuh ketika memikirkan apa-apa yang sudah dilakukan seorang ayah, sedangkan di sisi lain saya masih belum bisa berbuat apa-apa untuk beliau. Kemudian di akhir pertemuan itu, saya meminta ijin kepada mereka untuk membagikan komentar-komentar itu di blog, sebagian besar tidak keberatan, sebagian lagi ada yang setengah mengijinkan (boleh tapi tanpa nama), dan  ada satu orang yang tidak mengijinkan, dan tentu saja saya akan menepati komitmen itu. Ada beberapa kalimat yang akan membuat kita tersenyum, tertawa, terharu, membuat panas mata dan juga ada sebagian lagi akan membuat kita mengernyitkan dahi dan berpikir cukup lama (karena bahasanya atau karena tulisannya, hehe…) tapi inilah komentar-komentar mereka tentang “ayah”:

  • Papa itu baik, sering ngajak jalan-jalan (by. Pram)
  • Dari kecil ayah merawatku, ayah bekerja dan merawatku, ayah mengajakku berkeliling setiap malam untuk menidurkanku. terimakasih ayah… (by. nn)
  • Menurut saya bapak saya itu sangat baik. Walaupun bapak saya itu sering marah, tetapi bukan berarti benci, tetapi itu berarti sayang. Bapak itu lebih sayang sama aku daripada ibu. Saya minta apa aja dibelikan, tapi tidak langsung (by. Nafa)
  • Ayah adalah orang yang sangat baik dan seperti rumah sakit bagi Renjiro. Ayah adalah orang yang paling baik (by. Renjiro)*
  • Ayah saya sangat baik, suka memberi nasehat kepada saya. Moment yang paling indah saat saya dan ayah merayakan ulang tahun. Dia memberi hadiah yang sangat istimewa (by. Uli).
  • Ayah adalah orang yang baik, tapi kadang-kadang marah. Dia penyayang, tulus, baik hati, dan pekerja keras. Momen-momen yang menyenangkan adalah saat makan malam dan menonton TV bersama (by. Tito).
  • Ayah yang baik, tidak jahat. Aku sangat sayang padamu (by. nn).
  • Bapakku adalah seorang pahlawan, Bapakku seorang yang baik dan sayang padaku (by. Fadhel).
  • Ayah bagiku seorang yang baik. Momen yang paling membahagiakan adalah saat ayahku ……….. karena aku kasian sama ayahku (by. nn).
  • Ayahku baik, suka mengasih dan baik sama aku (by. nn).
  • Papa adalah orang yang baik, selalu menemani aku belajar. Aku selalu ditemani belajar, dan aku selalu diberi apapun (by. Talitha).
  • Ayahku baik, minta apapun saya dibelikan. Waktu ayahku bermain sepak bola ayahku mencetak 3 gol. Ayahku sangat baik (by. Adam)
  • Papaku itu pinter. Kadang-kadang papaku pulang malam karena itu aku pasti mendoakannya agar selamat. Jika papaku tidak pulang malam pasti dia akan mengajariku belajar. Aku sayang sama papaku (by. Ira).
  • Ayahku adalah sosok ayah yang sangat baik. Momen yang paling baik adalah saat aku berada di makam ayahku. Surat kecil untuk ayah. Ayah tenanglah… (by. nn)
  • Ayahku sangat sayang padaku, waktu aku dimarahi mamahku lalu aku menangis papahku yang mendiamkan aku. Aku sangat sayang pada papahku, tetapi aku pernah marah kepada papahku dan aku belum minta maaf (by. nn).
  • Ayahku adalah seorang pahlawan yang baik hati, terkadang dia marah tapi aku tau dia sayang padaku. Aku mempunyai kenangan saat ranking 1, ayah membelikan boneka kesukaanku (by. nn).
  • Papa orangnya baik banget, aku minta apa aja dibeliin dan setiap hari aku nggak pernah ketemu Papa, ketemunya cuma hari Sabtu dan Minggu, soalnya Papa kerja di Jakarta sampai ke Riau dan luar Jawa, kadang pernah 2 minggu sekali (by. nn).
  • Papahku sangat baik, Papah pernah mengajak saya jalan-jalan ke Java Mall, dan itulah moment yang terbaik (by. Nezza).
  • Ayahku baik. Pengalaman terindahku bersama ayah adalah saat aku menjadi juara dalam lomba meronce. Saat itu aku menang juara I. Setelah itu aku meminta hadiah tetapi ayah bilang “ya kalau ayah punya uang”. Ayah bekerja keras dari pagi sampai malam. Aku paham perjuangan seorang ayah sngat besar demi anaknya (by. nn).
  • Ayahku baik tapi aku suka mengejek. Ayahku yang paling hebat. Momen yang indah adalah saat ulang tahunku ke 3, ayahku membelikan makanan dan sebuah hadiah. Ayahku yang paling terhebat di seluruh dunia (by. riza).
  • Ayahku bagai pahlawanku. Beliau adalah pekerja keras. Ayahku sangat lucu dan suka menggoda. Selalu ada waktu untuk aku. Walaupun aku kadang-kadang marah kepadanya. Ayahku tak pernah lupa padaku. Ayahku Pahlawanku (by. nn).
  • Papa itu seperti bintang di langit. Saat aku menangis, aku selalu diajak Papa ke suatu tempat yang bagiku istimewa saat aku kembali tersenyum, Papaku sangat bahagia (by. nn).

Dan buat saya ayah adalah teman sekaligus lawan (teman berdiskusi dan lawan berdebat), ayah adalah imam sekaligus makmum (imam dengan tauladan yang diberikannya, makmum untuk setiap apa yang disukai anggota keluarga lainnya), ayah adalah penuntut sekaligus pembela (penuntut dan pembela kebenaran yang terkadang tersudut oleh suara terbanyak), ayah adalah …..dan adalah…..

*love you always